Orang Bijak 2

36. Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Dari ayat diatas, penulis ingin mengajak saudara – saudara seiman, kaum muslimin untuk bersama-sama mencoba menyingkap sedikit demi sedikit makna dari firman Allah swt, tentang ciptaan-Nya yang selalu berpasangan – pasangan, dan hal itu mungkin tidak kita sadari selama ini. Yaitu mengenai penyakit dan obat sebagai (pasangan)nya.

Dewasa ini, manusia kebanyakan mengambil jalan pintas dalam mengobati dirinya atau keluarganya, tanpa terlebih dahulu membaca riwayat (latar belakang) penyebab yang membawa seseorang itu menjadi sakit. Karena  sebab musabbab seseorang mengalami penyakit sudah pasti berkaitan erat dengan riwayat yang telah dilaluinya. Contoh yang sederhana saja, misalnya seseorang yang sakit “perut” atau sakit “kepala” jika dia merujuk ke belakang dari penyebab sakit tersebut, pasti ia akan dapat mengetahui apa penyebab dari sakit tersebut!

Sakit kepala banyak sekali penyebabnya  yang disebabkan oleh perilaku kita sendiri. Yang demikian itu bisa kita baca dengan seksama, jika kita mau membaca perkara tersebut ke belakang. Seperti contoh orang yang kebiasaannya minum kopi di waktu pagi, pada suatu pagi dia terlupa minum, sehingga tubuh dalamnya yang sudah terbiasa menerima rangsangan tersebut merasakan ada sesuatu yang hilang. Maka, dia akan mengirim sinyal ke otak, meminta untuk di isi (kopi). Ketika telah dipenuhi keinginan tersebut, maka ia akan merasakan kepuasan. Dan dengan demikian, hilanglah sakit kepalanya.

Tetapi jika orang  tidak mengetahui penyebab sakitnya, maka ia akan segera mengambil obat untuk diminumnya, dengan harapan agar sakitnya menjadi sembuh. Padahal hal tersebut  bukanlah satu keputusan yang tepat dan bijak. Karena belum tentu obat yang ia minum tersebut, sesuai dengan apa yang ia derita. Dan yang demikian itu, dalam jangka waktu tertentu, pasti akan menyebabkan efek  lain (membahayakan) bagi dirinya. Seperti  misalnya, jantung dan ginjalnya yang akan menjadi rapuh kekebalannya.

Karena dasar pemikiran tersebut di ataslah, sehingga kami tergerak hati untuk menyusun  risalah  kecil ini,  sebagai pencerahan  bagi kita semua.  Sebagaimana yang menjadi

tujuan ditulisnya risalah ini, maka kemudian kami beri judul  “ORANG BIJAK MENGOBATI PENYAKITNYA SENDIRI”

Risalah sederhana ini kami susun, dengan harapan agar apa yang menjadi keperihatinan kami selama ini, -terkait dengan bahayanya obat – obatan kimia-, bisa menjadi kesadaran banyak orang. Kami ingin  mengajak saudara sekalian untuk selalu mengasah pikiran dan tidak keluar dari jalur al-Quran dan sunnah – sunnah Rasulullah Muhammad saw dalam melakukan segala hal, termasuk juga mengobati penyakit.

Tak ada hal lain yang kami harapkan dari penulisan risalah ini, selain untuk menasehati diri kami sendiri yang faqir ini, dan juga sahabat, kerabat, handai taulan, dan kaum mukminin sekalian. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, bahwa agama itu adalah nasehat. Dari Allah dan rasul-Nya untuk sekalian kaum muslimin, pemukanya atau orang awamnya

Nasehat itu tentu dalam berbagai aspek kehidupan. Terlebih bagi orang yang sakit. Orang sakit sangat perlu untuk di ajak berbincang dari hati kehati, untuk berbagi rasa antara orang sakit dan orang yang sehat. Sebagai contoh misalnya, bahwa jika kita durhaka terhadap orang tua, tiba-tiba kita terkena serangan penyakit tertentu. Seperti jantung contohnya. Jangan kita serta – merta pergi ke dokter untuk berobat. Karena kalau kita mendatangi dokter, pastilah dokter akan mengatakan bahwa kita sakit jantung. Dan dari kaca mata medis, sudah barang tentu, dokter akan memberikan kepada kita resep obat tertentu dengan dosis tertentu. Yang biasa dipastikan bahwa itu adalah obat kimia yang berdosis tinggi, yang mengancam tubuh kita.

Sedangkan jika dia (orang yang sakit) memikirkan kemungkinan terdekat dari penyebab penyakitnya tersebut dan melakukan apa yang diajarkan oleh agama yaitu dengan meminta ampun kepada orang tua yang ia durhakai dan kemudian ber-istighfar kepada Allah, insya Allah akan menjadi satu kesembuhan bagi dia.

Kenapa penulis mengatakan seperti ini? Tidak lain karena pernyataan dari WHO (World Health Organization) yang menyarankan kepada dokter-dokternya agar menghindarkan pasien dari menkomsumsi obat-obatan sebelum diberikan nasehat kejiwaan. Dan kalau hanya dengan nasehat saja sudah bisa menjadikan pasien sembuh, berarti tak perlu lagi dikasih obat.  Ini menunjukkan bahwa obat – obatan kimia sangat berbahaya untuk dimakan oleh manusia, apalagi obat-obatan yang dijual dipasaran kebanyakan tidak jelas kesuciannya. Karena memang produsennya kebanyakan adalah orang bukan islam.

Maka,  dengan  buku ini,  Insya Allah  orang – orang islam  yang  masih dalam cengkraman orang non islam (melalui obat-obatannya), akan terlepas dari cengkraman tersebut. Begitu juga dengan  sebagian  besar  rumah  sakit  yang  ada, adalah  milik  orang  non  islam, yang rata-rata

This entry was posted in Taushiah. Bookmark the permalink.