imposible
imposible
Mengharap semua manusia suka, setuju atau mendukung semua sikap kita, adalah keinginan yang tak mungkin kan terwujud. Mungkin tidak ada yang salah pada diri kita. Semua apa yang kita sampaikan, juga adalah kebaikan. Tapi tetap saja hal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan bahwa orang lain akan simpati dan berpihak pada kita.

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah kaum mukminin yang menjadi khalifah seratus tahun setelah khilafah rasyidah berlalu. Tapi, beliau berhasil menghadirkan kembali nilai-nilai petunjuk (kebaikan) yang dulu diperagakan oleh Alkhulfaa’ur Rasyidun, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum. Sehingga karenanya, beliau dikatakan sebagai khalifah yang ke lima setelah empat khalifah tersebut.

Umar bin Abdul Aziz adalah manusia langka yang pernah hidup di zamannya, zaman yang sebenarnya telah cukup jauh terpaut (100 tahun) dari generasi terbaik, Rasulullah dan para sahabatnya. Konon, selama menjadi khalifah (dua tahun), Umar bin Abdul Aziz hanya dua kali junub. Beliau sedikit sekali tidur malam, karena ngelembur tugas negara yang tak terselesaikan di siang hari. Selebihnya, beliau pergunakan untuk qiyaamul lail, bermunajat kepada Tuhannya. Sedangkan di siang hari, beliau benar-benar tenggelam dengan berbagai urusan, melayani rakyatnya. Beliau juga sangat hati-hati sekali menggunakan fasilitas negara, sampai-sampai anaknya yang menemuinya karena masalah pribadi, di malam hari, beliau mematikan lampu. Karena beliau sadar betul bahwa minyak lampu tersebut dibeli dengan uang negara. Sehingga tidak mengherankan dengan kesungguhan semacam itu, beliau berhasil mengembalikan kejayaan Islam. Rakyat makmur, segala kebutuhan mereka tercukupi, rasa keadilan mereka juga terpenuhi, dan yang pasti, masyarakat sangat mencintainya. Bagaimana tidak, ketika itu para ‘amil (petugas) zakat harus berkeliling Afrika untuk mencari penerima zakat, tapi tetap nihil. Karena memang ketika itu sudah tidak ada lagi orang miskin.

Tapi, apakah Anda mengira bahwa dengan segala kebaikan yang Umar bin Abdul Aziz lakukan seperti itu, kemudian semua orang suka pada beliau. Sekali-kali tidak! Nyatanya beliau meninggal karena dibunuh, setelah dua tahun kepemimpinannya. Nah, apalagi kita, yang belum jelas kebaikannya, belum tampak keberpihakannya kepada masyarakat, kemudian kita berharap agar semua orang suka pada kita. Oleh karena itu, menggelikan sekali ketika ada pemimpin kita yang lebay, sedikit-sedikit mengadu, bahwa dia dizhalimi. Sebentar-bentar melaporkan rakyatnya pada polisi, karena dianggap menghinanya. Ada juga yang marah karena tidak dihargai setelah merasa ‘bekerja keras’ untuk rakyat.

Ketika kau yakin bahwa hanya kebaikan yang kau lakukan, segala apa yang kau perbuat memang diperuntukkan untuk rakyat, teruslah melakukan, jangan pedulikan omongan orang yang gak ada kerjaan. Memang ini adalah zaman, dimana banyak sekali orang ngomong, tapi tak mau bekerja. Tapi, kalau memang kritikan, koreksi dan kontrol yang orang sampaikan padamu, adalah benar adanya, tak usah alergi, tak usah belingsutan dan tak usah meradang. Terimalah masukan itu dengan tangan terbuka. Akomodasi setiap saran yang sampai kepadamu. Kemudian diskusikan dengan kawan dan para pembantumu.

Dengan begitu, kau akan lepas menjalankan tugas kepemimpinan, bukan berdasarkan tekanan dan kepentingan orang-orang tertentu, tapi benar-benar untuk kemaslahatan orang banyak, baik yang sekelompok denganmu, atau yang di luar kelompokmu. Baik mereka yang mengagumimu, atau yang membencimu sekalipun.

Orang boleh menilai kita sesuka hati mereka. Menghujat dan menelanjangi kekurangan dan kesalahan kita habisa-habisan. Tapi, percayalah, bahwa sejarah tak pernah berdusta untuk menceritakan semua kebaikan dan karya nyata kita. Dan yang pasti, bahwa semua kemaslahatan yang kita persembahkan untuk manusia dan semesta, sejatinya adalah untuk kita. Ganjaran sejati hanya akan kita dapati kelak di sisi Allah, dengan ganjaran yang berlipat ganda banyaknya. (Almuddatsir: 20)

****
Gambar di ambil dari http://tujefetevigila.com

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Leave a Comment