Keselarasan Antara Beribadah, Bekerja Dan Beristirahat

Mengantuklah, karena itu tak dilarang. Tidurlah, karena mata juga perlu beristirahat. Beristirahatlah, karena tubuh juga harus direbahkan. Merebahlah, karena lelah juga perlu dihilangkan.

Kawans, kalau kita mau jujur, sebenarnya memang, bahwa waktu yang kita punya tak lebih banyak dari kewajiban yang harus kita tunaikan. Namun walau demikian, Allah tak pernah zhalim dengan membebani hambanya dengan apa yang tak mampu diembannya.

Tapi, jangan lantas kelonggaran yang Allah berikan, kita jadikan pembenaran untuk melalaikan berbagai kewajiban kita. Kita tetap harus menunaikan kewajiban dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Baik kewajiban kita sebagai hamba Allah yang harus beribadah kepadaNya. Sebagai anggota masyarakat yang harus bersosialisasi dengan mereka. Sebagai kepala keluarga yang harus mencari nafkah. Sebgai ibu rumah tangga yang harus mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Sebagai pekerja yang harus profesional. Sebagai pelajar, yang harus rajin. Atau sebagai warga negara yang harus berpartisipasi dalam pembangunan. Lebih-lebih sebagai da’i yang harus selalu memberikan pencerahan kepada ummat.

Kerja tubuh dan otak kita memang punya masa penat dan bosan. Untuk itu, bila kita penat, maka kita perlu istirahat dulu. Atau jika kita bosan, berarti kita perlu refresing untuk sementara waktu. Kita tidak boleh terlalu memforsir diri, hanya karena ingin memenuhi target. Allah saja, Sang Pemilik diri ini, tak membebani kita, kecuali sebatas yang kita mampu. Kenapakah kita sendiri yang harus menyiksa diri? Inilah yang disebut menganiaya diri sendiri.

Banyak orang bekerja, begitu sangat “ngoyo”. Kepala dijadikan kaki, kaki dibuat kepala. Siang dibuat malam, malam dijadikan siang. Mereka beranggapan, bahwa kalau mereka tak melakukan itu, maka tak akan mendapatkan apa-apa. Betulkah? Lupakah mereka, bahwa yang memberi rizqi adalah Allah. Allah bisa memberikan rizqi dengan cara apa saja yang dikehendaki-Nya.

Bekerja hanyalah syarat untuk mendatangkan rizqi. Dan yang namanya syarat, sudak lazim kita ketahui, bahwa ia mempunyai batasan-batasan tertentu. Tak boleh kurang ataupun berlebih. Nah, kalau sudah bekerja menyalahi batasan-batasan tersebut, maka yang terjadi, adalah rusaknya syarat dari semestinya yang diinginkan. Dan kalau syarat sudah rusak, berarti bisa dipastikan, apa yang diinginkan dengan syarat itu, juga tak akan didapat.

Yang kita inginkan adalah rizqi yang halal dan barakah (baca berkah). Syaratnya, tentu dengan bekerja. Tapi, kerja yang wajar-wajar saja. Tak boleh ngoyo. Sebab kalau kita bekerja terlalu ngoyo, maka akan mengabaikan tugas kita untuk beribadah dengan baik (baca shalat tepat waktu). Padahal beribadah, adalah tujuan utama penciptaan manusia maupun jin. Sehingga kalau ibadah terabaikan, dikarenakan terlalu asyik bekerja, itulah yang saya maksud di atas sebagai syarat yang rusak.  Dan kalau sudah begitu, jangan pernah berharap untuk mendapatkan rizqi yang halal plus barakah. Bisa jadi ia memang akan mendapakan banyak uang dari kerja kerasnya. Tapi ketahuilah, bahwa semua itu tidaklah berkah. Dan harta yang tidak berkah, biasanya akan mencelakakan pemiliknya. Di Dunia, lebih-lebih lagi kelak di Akherat.

This entry was posted in Kajian, Taushiah and tagged , , , . Bookmark the permalink.