Pesantren

Salaf Dipertahankan, Modern Disaring

Adalah ciri khas kebanyakan pondok pesantren salaf di Indonesia, para santrinya , diarahkan untuk pandai membaca kitab-kitab kuning, gundul (kitab berbahasa Arab klasik yang tidak berharakat). Dipacu untuk banyak menghafal berbagai matan kitab, seperti Alfiyah Ibnu Malik, al-ajurumiyah, safinatunnaja, zubad dan lainnya.

Sebaliknya belakangan ini, dengan diawali Ponpes Gontor di Ponorogo, juga sudah banyak berdiri pondok-pondok pesantren modern, yang tidak terlalu memperhatikan kajian-kajian kitab kuning dan hafalan. Kalau pondok salaf begitu menekankan penguasaan ilmu alat (nahwu dan sharaf), maka pondok modern tidaklah begitu, pondok modern justru lebih mengutamakan keterampilan berbahasa Arab secara verbal. Sebagaimana juga, menekankan pembelajaran ilmu-ilmu umum yang kontemporer dan penguasaan bahasa asing selain Arab, seperti Inggris dan Mandarin.

Pondok pesantren Babul Khairat hadir (didirikan) untuk melengkapi apa yang tidak ada pada dua model pondok pesantren di atas. Babul Khairat tetap secara istiqamah dan optimal, berupaya menjaga nilai-nilai kesalafan yang menjadi trade merk pondok salaf. Seperti mewajibkan semua pelajar, melazimkan membaca wirid-wirid harian, rawatib (ratib ‘Atthas, Haddad dan ‘Idrus), manakib, qasidah Burdah, maulid Diba’, maulid Habsyi (sinthud durar) dan beberapa amalan lainnya. Begitu juga, para pelajar pondok Babul Khairat, sesuai dengan jenjangnya masing-masing, diwajibkan untuk menghafal matan beberapa kitab klasik. Seperti ‘aqidatul ‘awwam, safinatun naja, zubad, al-ajurumiyah, alfiyah Ibnu Malik dan lain-lain.

Meski demikian, Pondok Pesantren Babul Khairat juga, tidak menutup diri terhadap kehadiran ilmu-ilmu kontemporer dan bahasa asing (khususnya Inggris), sebagaimana yang menjadi ciri khas pondok modern. Di Babul Khairat, bahasa Inggris diupayakan menjadi bahasa komunikasi kedua setelah bahasa Arab. begitu juga bahasa Jerman, walaupun belum maksimal, tapi sudah diajarkan. dan sejak tahun 2005, Pondok Pesantren Babul Khairat telah membuka SMP dan SMA yang langsung di bawah Depdiknas. kurikulum dan materi pelajarannya semuanya merupakan standart Diknas.

Kalau di pondok-pondok pesantren modern, biasanya pembelajaran dilakukan di kelas, seperti layaknya sekolah-sekolah umum, Babul Khairat sejak pertama berdiri (28 juni 1998), memang telah melalkukan proses belajar mengajar secara klasikal di dalam kelas. Sedangkan sistem sorogan seperti yang dilakukan pondok-pondok salaf, juga tetap dilakukan. biasanya untuk pelajaran-pelajaran idhafi (tambahan). Dan biasanya dilakukan di mushalla, perpustakaan, ataupun rumah pengasuh.

Fasilitas
Beberapa hal yang membuat kebanyakan anak tidak betah belajar di pondok, adalah kurangnya air, terbatasnya jumlah kamar mandi, tidak ada ruang perawatan khusus bagi pelajar yang sakit, tidak ada sarana komunikasi, dan paling tidak mengenakkan, adalah tidur di atas lantai dan memasak makanan sendiri.

Pondok pesantren Babul Khairat, telah mengantisipasi semua ketidak nyamanan tersebut. AlhamdulilLah, karena pondok ini terletak di kecamatan Lawang, daerah Malang utara yang mudah air, maka air tidak pernah menjadi masalah. Apalagi, disamping menggunakan air PDAM, di Pondok Babul Khairat juga ada dua sumur, yang alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah kehabisan air. walaupun dipakai selama 24 jam nonstop.

Untuk merawat santri yang sakit, telah disediakan satu ruangan khusus dan akan dijaga dan dirawat oleh beberapa santri senior yang telah ditugaskan oleh dewan guru. Lebih dari itu, begitu ada pelajar yang sakit, maka pengurus akan membawanya ke dokter atau puskesmas ataupun memanggil seorang dokter untuk mengobatinya. Karena para pelajar Babul Khairat 80% adalah datang dari luar malang (luar Jawa), ada yang dari Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, NTT, NTB, Jakarta dan beberapa orang dari pada Malaysia, maka pondok merasa wajib menyediakan wartel, agar murid-murid bisa menghubungi keluarganya. Tentunya tetap dengan batasan waktu yang telah ditentukan oleh para guru dan pengurus pondok.

Masalah kenyamanan istirahat pelajar, begitu sangat diperhatikan. sehingga pondok merasa wajib untuk menyediakan ranjang/katil lengkap dengan kasur/tilam dan bantalnya. begitu juga soal makan, para murid tidak disita waktu belajarnya dengan urusan masak-memasak, karena pondok telah menyediakan makan tiga kali sehari untuk semua pelajar. Tentu tetap dengan kadar gizi yang cukup.

Lokasi, Pendiri, Pengasuh dan Para Guru
Pondok Pesantren Babul Khairat terletak di JL. Ngamarto 1 no. 426 Lawang Malang, Jawa Timur Indonesia. Sekitar 80 kilo meter arah selatan kota Surabaya. Pondok ini didirikan oleh al-Murabbi al-Habib Muhsin bin Umar al-Attas, seorang ulama yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya pada dunia pendidikan agama. (baca profil pendiri).

Setelah beliau wafat pada februari tahun 2006, maka kepemimpinan pondok ini dilanjutkan oleh putra sulung beliau al-Ustadz as-Sayyid Umar al-Attas. Seorang ustadz yang mendalami fiqh, pernah belajar di Rubath Tarim Hadhramaut asuhan al-’Allamah al-Habib Salim as-Syatiri. Sedangkan para guru yang mengajar di Pondok Pesantren Babul Khairat, adalah alumni beberapa pondok pesantren dan lembaga pendidikan agama dan bahasa Arab di Indonesia. Seperti Pondok Pesantren Mamba’us Shalihin Suci Gresik, Ma’had Darullughah Wadda’wah Bangil
Pasuruan, Pondok Pesantren Raudhatul ‘Ulum Besuk Pasuruan, Pondok Pesantren Ploso Kediri, LPBA Sunan Ampel Surabaya, Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf Malang, LIPIA Jakarta, Darul Zahraa Tarim Hadhramaut Yaman dan Rubat al-Habib Zain bin Semeit Madinah al-Munawwarah Saudi Arabiyah.

Adapun guru-guru yang mengajar di SMP dan SMA Babul Khairat, adalah para sarjana alumni dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Seperti IKIP Negri Jakarta, UM Malang, Unair Surabaya, Unmuh Malang, STIKI Malang, IKIP PGRI Malang dan UNTAN Pontianak.