<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pondok Pesantren Babul Khairat &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://www.babulkhairat.net/category/kajian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.babulkhairat.net</link>
	<description>Website Resmi Pondok Pesantren Babul Khairat Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 04:01:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2</generator>
		<item>
		<title>Penjajahan Atas Wanita</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/11/03/penjajahan-atas-wanita/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/11/03/penjajahan-atas-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 04:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.babulkhairat.net/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu”. Kira-kira begitulah bunyi lagu yang cukup terkenal beberapa tahun lalu. Wanita dalam lagu itu digambarkan sebagai korban laki-laki. Karena wanita memang hanya dikenal sebagai konco wingking yang hanya tahu kasur, sumur &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/11/03/penjajahan-atas-wanita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu”. Kira-kira begitulah bunyi lagu yang cukup terkenal beberapa tahun lalu. Wanita dalam lagu itu digambarkan sebagai korban laki-laki. Karena wanita memang hanya dikenal sebagai <em>konco wingking</em> yang hanya tahu kasur, sumur dan dapur. Wanita hanya sebagai obyek dan bukan sebagai subyek. Di kalangan bangsa Arab jahiliyah sebelum datangnya Islam pun perempuan tak lebih seperti budak yang kerjanya melayani para lelaki dan melahirkan anak-anak mereka. Bayi perempuan yang baru lahir pun tak segan mereka kubur hidup-hidup karena tak mau menganggung malu.</p>
<p>Seiring perkembangan zaman yang semakin maju dan modern, emansipasi mulai di hembuskan. Di Indonesia, emansipasi dimulai dengan munculnya ide-ide dari RA Kartini yang dikenal sebagai pelopor emanspasi wanita. Banyak wanita yang menuntut persamaan hak dengan laki-laki termasuk dalam hal pendidikan, karier, dan lainnya. Dalam islam menuntut ilmu bukan dominasi laki-laki semata. “ Thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimat”. Itulah hadist yang popular dan wajib dihapal oleh setiap penuntut ilmu muslim.<span id="more-882"></span></p>
<p>Namun hembusan emansipasi dan kebebasan wanita tanpa disadari telah membuat sebuah penjajahan baru bagi perempuan. Bagaimana tidak? Wanita lagi-lagi menjadi komoditi dan sasaran empuk berbagai bidang. Iklan misalnya, hampir tidak ada iklan yang tidan menggunakan wanita sebagai daya tarik konsumen. Belum lagi target iklan itu sendiri. Misalnya dalam sebuah iklan pemutih wajah menggambarkan bahwa wanita yang cantik adalah  wanita yang berkulit putih, cerah, berkilau, dan sebagainya. Bila seorang wanita berkulit putih ia akan dikejar-kejar dan disukai oleh banyak pria. Jadi wanita harus punya daya pikat kecantikan, kulit putih, gigi bersinar agar disukai pria. Lihat kan! Akhirnya wanita tetap jadi obyek.</p>
<p>Bagaimana pula dengan berbagai ajang dan kontes yang sedang marak diadakan, Putri Indonesia, Miss Indonesia, Miss celebrity, Miss produk ini, Miss produk itu, Miss Universe, Miss World, Miss International, dan lainnya. Semua menjadikan wanita sebagai tontonan. Dan para wanita hanya dibingungkan dengan urusan kecantikan wajah, langsingnya tubuh, kulit putih, rambut terawat. Konon mereka harus punya 3B, Brain, Beauty and Behavior ( otak, kecantikan, perilaku). Berarti mereka juga memperhitungkan kecerdasan kan? Ya, tetapi seberapa besar prosentasenya dibandingkan penilaian fisik mereka?</p>
<p>Buktinya mereka harus melewati sesi pakaian renang untuk melihat secara detail lekuk tubuh mereka. Mereka harus punya tinggi minimal dan badan ideal. Tetapi mereka tak harus mahir bahasa Inggris, padahal bahasa Inggris adalah bahasa yang lazim digunakan secara internasional. Pertanyaan yang diberikan pun terkesan standar dan umum dimana mereka sudah diberi gambaran sebelumnya selama masa karantina. Sedangkan behavior (perilaku) dinilai selama masa karantina. Semua bisa dibuat dan diatur sedemikian rupa sehingga tampak sempurna. Disinilah kita bisa lihat apa yang dinilai dalam kontes ini.</p>
<p>Setiap wanita terlahir dengan bentuk wajah, warna kulit, bentuk tubuh yang tidak serupa. Semuanya merupakan karunia Allah. Jadi manusia tidak berhak menilai bahwa kulit putih lebih baik daripada kulit hitam atau mata besar lebih bagus daripada mata sipit atau rambut lurus lebih indah daripada rambut keriting. Sehingga kita tidak mensyukuri apa yang menjadi kodrat kita. Wanita yang ingin tampil sempurna menurut versi manusia lain, maka ingin melakukan sejumlah perubahan dengan alat pemutih kulit yang ternyata membahayakan, perawatan salon dengan biaya jutaan agar langsing atau yang paling ekstrem adalah melakukan operasi plastic. Itu semua dilakukan agar tampil sempurna dimata orang. Wanita jadi terjajah oleh keinginannya sendiri untuk menjadi sempurna.</p>
<p>Wanita memang selalu ingin tampil cantik. Apalagi media selalu memborbardir kita dengan definisi cantik yang kaku, yaitu dengan batasan-batasan fisik tertentu seperti kulit putih, badan langsing, hidung mancung, dan lainnya. Jadi kita dipaksa untuk menerima definisi itu. Tetapi dalam Islam kita diajarkan untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Jangankan  orang yang berkulit hitam atau berhidung pesek, orang yang tidak mempunyai tangan dan kaki pun bisa mensyukuri nikmatnya hidup jika ia mau. Kita akan terlihat cantik dengan sendirinya jika kita mau bersyukur dan memiliki akhlak  mulia.</p>
<p>Beruntungnya kita memiliki agama yang tak membedakan kasta dan kedudukan manusia apalagi warna kulit seseorang. Seseorang akan dinilai berdasarkan ketakwaannya kepada Allah swt.</p>
<p dir="rtl">$pkr&#8217;¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&amp;ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @Í¬!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r&amp; yYÏã «!$# öNä39s)ø?r&amp; 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ</p>
<p> Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa &#8211; bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al hujurat : 13)</p>
<p>Bukan saatnya wanita hanya dinilai dari segi fisik dan kecantikan saja. Sekarang saatnya wanita harus menjadi seseorang yang punya kualitas secara intelektual dan tentunya didasari oleh keimanan dan ketakwaan. Berilmu adalah modal utama seorang wanita, karena dia akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan menjadi madrasah pertama bagi mereka. Karena sesungguhnya kecantikan fisik akan pudar, sedangkan kecantikan akhlak dan kecerdasan iman tak akan pudar dimakan oleh waktu. Wallahua’lam Bishawab.</p>
<p>Fatimah Alatas</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/11/03/penjajahan-atas-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUSAHNYA MENJADI IBU</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/susahnya-menjadi-ibu/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/susahnya-menjadi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arrifqah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mematuhi perintah suami]]></category>
		<category><![CDATA[mengurusi rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[profesi]]></category>
		<category><![CDATA[tugas ibu]]></category>
		<category><![CDATA[wanita karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.babulkhairat.net/?p=789</guid>
		<description><![CDATA[Judul diatas bukanlah sebuah curahan hati (curhat ) pribadi, apalagi sebuah bentuk denial / penyangkalan terhadap kodrat seorang wanita. Judul di atas hanyalah sebagai sebuah ungkapan betapa berat dan besarnya tanggungjawab seorang ibu. “ Saya hanya seorang ibu rumah tangga” &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/susahnya-menjadi-ibu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/05/mother-adjusts-daughters-hijab-31.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-794" title="mother-adjusts-daughters-hijab-3" src="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/05/mother-adjusts-daughters-hijab-31-300x300.png" alt="" width="280" height="280" /></a>Judul diatas bukanlah sebuah curahan hati (curhat ) pribadi, apalagi sebuah bentuk <em>denial </em>/ penyangkalan terhadap kodrat seorang wanita. Judul di atas hanyalah sebagai sebuah ungkapan betapa berat dan besarnya tanggungjawab seorang ibu. “ Saya hanya seorang ibu rumah tangga” jawab seorang ibu ketika ditanya mengenai profesinya. Kata “ hanya” memiliki konotasi sesuatu yang sepele atau biasa. Masyarakat memang terlanjur menganggap bahwa profesi ibu rumah tangga hanyalah profesi wanita yang tidak berpendidikan. Berbeda dengan wanita karier yang memiliki gengsi dan “berharga” di mata orang.<span id="more-789"></span></p>
<p>Pada kenyataanya seorang ibu rumah tangga harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam segi intelektualitas maupun emosional.  Bagaimana tidak? Seorang ibu harus bisa menjadi dokter yang merawat suami dan anak-anaknya yang sakit, menjadi akuntan yang harus mampu mengatur keuangan keluarga, menjadi koki dan ahli gizi untuk membuat makanan yang sehat dan berguna bagi tumbuh kembang anak-anaknya atau bahkan harus menjadi arsitek untuk menata ruangan dan mengatur perabotan sehingga rumah nyaman untuk ditempati.</p>
<p>Tugas ibu sangatlah tidak mudah. Setelah mengandung 9 bulan, ia harus berjuang mempertauhkan nyawanya untuk melahirkan sang anak. Ketika anak lahir ke bumi, ia harus mengorbankan waktu-waktunya untuk merawat dan menyusui bayinya. Ibu harus berjaga hampir setiap malam untuk mendiamkan tangisan anaknya. Tak berhenti sampai disitu, ibu harus menyiapkan makanan setiap harinya yang terkadang tak ingin disantap oleh anaknya. Kalau profesi lain memiliki jam kerja seorang ibu memiliki tanggungjawab <em>full day</em> dalam menyiapkan keperluan keluarganya. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak mengenal waktu libur, cuti atau dispensasi. Bahkan tak jarang seorang ibu harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Belum lagi bila anak melakukan sebuah kesalahan maka ibulah yang dianggap salah mendidik.</p>
<p>Sebuah  survey dilakukan terhadap 18.000 ibu rumah tangga di Toronto, Canada. Survey tersebut adalah mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari. Sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan gaji yang seharusnya di terima seorang ibu rumah tangga jika pekerjaan domestik yang mereka lakukan digaji. Pendapatannya adalah sejumlah $ 124.000 atau Rp. 1.116.000.000 per bulan. Mungkin semua wanita akan memilih menjadi ibu rumah tangga jika ini benar-benar diterapkan.</p>
<p>Maka dari itu tak heran mengapa ibu memiliki keistimewaan 3 kali diatas ayah sebagaimana sabda Rasulullah saw. Ibu memiliki tugas yang cukup berat, seperti yang tertuang dalam ayat suci Al Quran berikut :</p>
<p><em>Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: &#8220;Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri&#8221;.</em> ( QS Al ahqaf : 15)</p>
<p>Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dalam pepatah Arab ada ungkapan berbunyi <em>al-ummu madrasah</em> (ibu adalah sekolah). Karena itulah maka seorang ibu haruslah cerdas, cerdas secara intelektual, emosional dan juga spiritual. Cerdas secara intelektual karena ibulah yang pertama kali mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak sebelum ia masuk ke bangku sekolah. Ibu harus mengenal dan mengetahui banyak hal yang mungkin akan ditanyakan oleh anaknya. Cerdas secara emosional karena ibu harus bisa mengendalikan emosinya, harus sabar dan memiliki keikhlasan yang tinggi dalam melayani keperluan suami dan anak-anaknya. Cerdas secara spiritual karena ibu harus memiliki iman dan ketakwaan yang tinggi untuk dapat membimbing anak-anaknya. Jika tidak demikian, kemungkinan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya yang terjadi beberapa tahun lalu dimana ada seorang ibu yang membunuh ketiga anaknya dengan alasan khawatir akan masa depan anak-anaknya kelak. Padahal sang ibu adalah seorang muslimah dan merupakan alumni perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Artinya ia adalah seorang yang cerdas secara intelektual, tapi tidak secara spiritual.</p>
<p>Tantangan bagi ibu semakin berat terutama di zaman penuh fitnah seperti sekarang dimana <em>ghazwul-fikri</em> (perang pemikiran/ perang budaya/ perang ideologi) datang menyerbu rumah-rumah kaum muslimin. Serbuan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa dari televisi, internet, facebook, koran, komik, majalah,  musik, pergaulan dan bahkan dari sekolah. Maka kehadiran seorang ibu yang memiliki wawasan pengetahuan luas laksana  benteng bagi anak-anaknya. Ibulah yang bertugas membentengi, memfilter dan mengarahkan anak-anak menghadapi berbagai serbuan perang budaya tadi.</p>
<p>Beratnya beban menjadi ibu rumah tangga juga dirasakan oleh putri tercinta Baginda Nabi yaitu Sayyidah Fatimah Az-Zahra’ radhiyallahu anha. Suatu hari  Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah Az-Zahra’. Didapatinya putrinya itu sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya padanya, &#8220;Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis&#8221;. Fatimah  berkata, &#8220;Ayah, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan saya menangis&#8221;. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi putri yang sangat dicintainya itu. Fatimah melanjutkan perkataannya, &#8220;Wahai Rasulullah, sudikah kiranya ayah meminta Ali (suaminya) mencarikan saya seorang jariah untuk menolong saya menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah&#8221;.</p>
<p>Mendengar perkataan putrinya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya &#8220;Bismillaahirrahmaanirrahiim&#8221;. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk putrinya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar sendiri sambil bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya. Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, &#8220;Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT&#8221;, maka penggilingan itu berhenti berputar .</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda kepada putrinya, &#8220;Jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Wahai Fatimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat. Wahai Fatimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Wahai Fatimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Wahai Fatimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat. ”</p>
<p>Walaupun terlihat berat, ternyata hampir semua wanita ingin menjadi ibu. Allah telah menganugerahkan naluri keibuan pada setiap wanita. Cinta kasih seorang ibu tak akan sanggup dibayar berapapun jumlahnya oleh seorang anak, dan memang ibu pun tak mengharap apapun selain kebahagiaan anak-anaknya. Bahkan gaji yang sepantasnya diterima seorang ibu rumah tangga dengan jumlah fantastis sebagaimana hasil survey di atas menjadi tidak berarti apapun jika dibandingkan pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT. Dengan keikhlasan yang didasari cinta kasih terhadap keluarganya, seorang ibu tak akan lagi berucap  “susahnya menjadi seorang ibu” melainkan “beruntungnya aku menjadi ibu”, karena cinta dan pengorbanan ini akan dibalas setimpal bahkan lebih oleh Sang pemilik cinta.</p>
<p>Fatimah Azzahra Alattas, SE<br />
(Guru Bahasa Inggris SMP Babul Khairat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/susahnya-menjadi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mewaspadai Maksiat dalam Kemasan</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/mewaspadai-maksiat-dalam-kemasan/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/mewaspadai-maksiat-dalam-kemasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:18:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arrifqah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kemasan]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[packaging]]></category>
		<category><![CDATA[pezina]]></category>
		<category><![CDATA[siaran televisi]]></category>
		<category><![CDATA[siasat setan]]></category>
		<category><![CDATA[waria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.babulkhairat.net/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda belajar ilmu ekonomi, maka anda akan mengenal salah satu cabang ilmu ekonomi yaitu pemasaran. Dalam ilmu pemasaran  dikenal istilah packaging dalam sebuah produk. Packaging atau kemasan penting karena merupakan salah satu strategi dalam menarik segmen pasar yang dituju. &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/mewaspadai-maksiat-dalam-kemasan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/05/right-way-wrong-way1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-786" title="right-way-wrong-way1" src="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/05/right-way-wrong-way1-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Jika anda belajar ilmu ekonomi, maka anda akan mengenal salah satu cabang ilmu ekonomi yaitu pemasaran. Dalam ilmu pemasaran  dikenal istilah <em>packaging</em> dalam sebuah produk. <em>Packaging</em> atau kemasan penting karena merupakan salah satu strategi dalam menarik segmen pasar yang dituju. Lihat saja beberapa produk-produk lama telah mengubah kemasan lama menjadi yang baru sehingga tidak akan kalah dan tersaingi dengan produk baru yang mempunyai kemasan lebih menarik. Bahkan terkadang walaupun  barang tersebut tidak berkualitas, tetapi dikemas menarik dan elegan maka  konsumen akan tertarik setidaknya untuk mencoba. Dengan kata lain, kemasan merupakan citra positif yang tampak dari luar tapi tak dapat dipastikan kualitas isinya.<span id="more-785"></span></p>
<p>Tampaknya saat ini bukan hanya produk-produk pasar saja yang menggunakan strategi ini. Kini, berbagai bidang dalam kehidupan sosial, politik, media pun menggunakan strategi tersebut. Semua dikemas dalam sebuah kemasan yang menarik untuk membuat produknya laku.  Sebagai contoh di bidang media, kita lihat bagaimana sebuah televisi milik pemerintah yang ditinggal oleh pemirsanya yang lebih memilih untuk menyaksikan televisi swasta yang dikemas lebih menarik. Karena jika dilihat dari segi isi, menurut saya tidak jauh berbeda. Bahkan TV pemerintah banyak menyiarkan siaran pendidikan yang berkualitas. Namun sekali lagi, karena kemasan yang kurang menarik membuat banyak pemirsa memilih TV swasta dengan kemasan yang lebih berani. Misalnya saja dalam sebuah acara dialog, sajian yang ditampilkan tidak saja hanya menampilan dialog biasa tapi yang ditampilkan adalah orang-orang yang mampu berdebat dan bersilat lidah agar lebih menarik dan provokatif sehingga rating pun bisa naik.</p>
<p>Dalam memasarkan kemaksiatan dan produk-produk perusak iman, tipuan <em>packaging</em> juga menjadi strategi andalan musuh terbesar bani Adam yaitu iblis. Ada istilah <em>tazyinul ma’ashi</em> yaitu teknik mengemas maksiat agar terlihat baik atau minimal tidak terlihat terlalu jelek di mata manusia. Maksiat yang dikemas dengan cerdas dan menarik akan tetap dibeli manusia. Sebuah maksiat yang diharamkan syariat Islam akan menjadi samar-samar dan pada akhirnya akan diterima dan dianggap sah-sah saja di mata masyarakat.</p>
<p>Kita ambil contoh bagaimana waria yang dulu dianggap tabu dan tidak wajar, namun saat ini kaum abu-abu itu menjadi sosok yang sangat diterima di masyarakat. Peran dalam sinetron, presenter, humor akan semakin meriah dengan penampilan seorang lelaki kemayu. Menjual peran waria di dunia hiburan sangatlah prospektif, sehingga ada pemakluman bahwa hal itu dilakukan untuk mencari rezeki dan seharusnya memang tidak menjadi masalah karena hanya sebagai hiburan. Padahal di dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhori, Rasulullah melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. Disinilah kelihaian iblis yang perlahan tapi pasti merubah sebuah syariat menjadi tak berarti. Kita bisa lihat licinnya trik musuh kita ini dalam menyesatkan manusia. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut ini :</p>
<p>Iblis berkata: &#8220;Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma&#8217;siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka&#8221;. (Al Hijr : 39-40)</p>
<p>Trik-trik yang dilakukan iblis melalui metode kemasan selalu fleksibel dan mengikuti perkembangan zaman. Setiap celah dimanfaatkan oleh setan untuk mengelabui manusia. Bagaimana setiap generasi diciptakan idola-idola baru yang secara global digandrungi oleh seluruh dunia tak terkecuali umat Islam. Dunia musik selalu melahirkan penyanyi atau band-band baru yang secara tidak langsung mempromosikan mode pakaian terbaru, tren rambut terbaru, lagu-lagu cinta dan kebebasan. Bahkan istilah pacaran yang jelas dilarang dalam Islam dapat disamarkan oleh iblis dengan mengeluarkan istilah pacaran Islami dengan kemasan manis berupa tujuan untuk membina rumah tangga. Padahal intinya adalah sama, berdua-duaan, pendekatan ke arah zina, dan pergaulan bebas. Hamil di luar nikah pun dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah dimana seorang pezina yang mempertahankan anaknya hingga lahir kedunia diberi penghargaan dan dianggap sebagai pahlawan karena memilih untuk mempertahankan kandungannya daripada menggugurkannya. Maka tidak heran saat ini orang menjadi biasa mendengar dan menyaksikan peristiwa MBA ( <em>married by accident </em>).</p>
<p>Film-film yang baru pun semakin canggih dalam menyampaikan misi-misinya. Pornografi misalnya, jika dijual dalam bentuk apa adanya pasti akan ditolak oleh masyarakat. Lalu dikemaslah pornografi itu dalam sebuah film komedi atau horor yang akan lebih diterima oleh masyarakat luas. Karena dalam kedua jenis film itu akan mengaburkan tujuan sebenarnya. Penampilan seronok akan dianggap wajar dan biasa serta adegan-adegan mesum dianggap sebagai lelucon yang membuat tertawa penonton. Orangtua pun tanpa khawatir membiarkan anak-anaknya menonton film-film tersebut, karena sedikit demi sedikit ditanamkan sifat permisif dan pemakluman pada diri orangtua.</p>
<p>“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). “ (QS AlAraf 17)</p>
<p>Ayat diatas merupakan pernyataan iblis bahwa dia akan berjuang dengan segala kemampuannya untuk menyesatkan manusia akibat dari rasa sakit hatinya karena dinyatakan tersesat oleh Allah dengan segala kemampuan yaitu dari arah depan, belakang, kiri dan kanan. Sebagaimana yang dia utarakan pada ayat sebelumnya. &#8220;Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus”.  Menurut penjelasan Imam At Thobari tentang ayat ini, iblis mendatangi manusia dari semua arah kebaikan dan keburukan. Dia memalingkan manusia dari yang haq dan menganggap baik setiap yang bathil. Dia juga selalu berusaha memalingkan manusia dari semua perintah Allah dan menghiasi serta memandang indah larangan Allah dan mengarahkan manusia untuk mengerjakannya.</p>
<p>Bila kita amati surat Al A’raf diatas menyebutkan arah jeratan iblis dari kiri, kanan, depan dan belakang, lalu bagaimana dengan atas dan bawah? Mungkinkah masih ada celah untuk lolos dari jerat tipu daya setan dari arah tersebut? Imam At Thobary mengutip Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat tersebut tidak menyebutkan datangnya pengaruh setan dari atas, sebab rahmat Allah turun kepada setiap hamba dari arah atas. Arah atas menunjukkan rahmat dan kasih sayang Allah yang mutlak diberikan oleh sang Pencipta kepada siapapun yang dikehendakinya. Sedangkan arah bawah adalah lambang kesadaran manusia akan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menyelamatkan dirinya, kecuali dengan bantuan Allah swt. Dengan demikian perpaduan atas dan bawah tersebut menjadi sebuah kesatuan dimana ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah swt akan menjadi umpan untuk meraih rahmat dan kasih sayang Allah.</p>
<p>Masih banyak lagi tipuan-tipuan yang dilakukan oleh iblis di sekitar kita. Yang harus kita lakukan adalah selalu <em>aware</em> (sadar) musuh kita tidak akan pernah menyerah. Trik sehalus apapun pasti dilakukan. Meskipun kita telah melakkan sejumlah kebaikan, ibadah dan jauh dari perbuatan maksiat, sebaiknya jangan berpuas hati dulu. Mungkin ibadah yang kita lakukan masih dibumbui oleh ujub, riya’, kebaikan yang kita lakukan masih belum ikhlas, karena tipu daya setan bisa berwujud apapun dan dimana pun. Beruntunglah kita memiliki Allah yang selalu melindungi kita selama kita masih berada di dalam koridor ketaatan dan keimanan.</p>
<p>Fatimah Azzahrah Alattas, SE<br />
( Guru Bahasa Inggris SMP Babul Khairat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/05/11/mewaspadai-maksiat-dalam-kemasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar Target Kelululusan</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/target-kelulusan/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/target-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 10:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Kekukusan]]></category>
		<category><![CDATA[kepala sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[UAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.babulkhairat.net/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[Sempat sedikit bersitegang dengan rekan-rekan guru, ketika saya agak ngotot meminta mereka agar mengisi raport sesuai dengan hasil ujian anak-anak saja. Tapi mereka tetap besikeras untuk mencantumkan nilai di raport siswa sesuai atau di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/target-kelulusan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/04/UAN.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-698" title="UAN" src="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/04/UAN.jpg" alt="" width="230" height="219" /></a>Sempat sedikit bersitegang dengan rekan-rekan guru, ketika saya agak  ngotot meminta mereka agar mengisi raport sesuai dengan hasil ujian  anak-anak saja. Tapi mereka tetap besikeras untuk mencantumkan nilai di  raport siswa sesuai atau di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang  telah diatur sebelumnya. Berapapun hasil yang didapat siswa pada  pelaksanaan ujian. Mereka berdalih bahwa hal tersebut untuk melempangkan  jalan siswa menuju kelulusan. Sebab untuk ujian akhir nasional (UAN)  tahun ini sudah tidak lagi menjadi satu-satunya acuan untuk menentukan  kelulusan siswa. Tapi juga ditentukan oleh hasil ujian akhir sekolah dan  nilai raport. Hasil UAN 60%. Hasil UAS ditambah nilai raport mulai  semester 1 sampai semester 5, 40%. Begitu komposisinya.<span id="more-695"></span></p>
<p>Komposisi  antara UAN, UAS dan nilai raport seperti itu memang lebih rasional dan  lebih bisa  diterima. Sebab hal tersebut menyertakan seluruh materi  pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tentunya juga melibatkan guru dan  kepala sekolah secara manusiawi untuk menentukan siapa saja siswa mereka  yang layak lulus atau yang tidak layak lulus. Sekali lagi, ini lebih  rasional. Walau menurut saya tetap belum ideal. Sebab idealnya menurut  saya, adalah 50-50. UAN 50, dan sekolah 50. Tapi sekarang masalahnya  bukan pada komposisi atau rasionalitas kewenangan. Tapi lebih kepada  mental bapak-bapak  dinas pendidikan, kepala sekolah dan para guru.</p>
<p>Konon,  menurut informasi yang kami terima dari MKKS (musyawarah kerja kepala  sekolah), para kepala sekolah telah bersepakat, bahwa mereka akan  menyuruh para guru, bagaimanapun caranya, agar nilai yang tertera di  raport minimal 80 untuk setiap mata pelajaran. Sebab menurut yang mereka  dapat, para sekolah telah ditarget oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota  agar meluluskan siswanya sekian persen. Sebab para kepala dinas  kabupaten/kota juga telah ditarget oleh dinas propinsi untuk meluluskan  para siswa peserta UAN di daerah mereka sekian persen. Dan dinas  propinsi juga ditarget oleh Depdiknas untuk menjadikan kelulusan  nasional sekian persen.</p>
<p>Karena ada target-target semacam  itu, jadilah sekarang ini para guru menjalankan aksi-aksi yang tidak  terpuji untuk bisa memnuhinya. KKM dinaikkan. UAS dibuat mudah sesuai  dengan keyakinan bahwa siswa bisa mengerjakannya. Bahkan menurut seorang  rekan guru, ada satu sekolah yang sampai mengganti raport baru untuk  menjadikan KKM semuanya minimal 80. Dan bagaimanapun tidak bisanya  seorang siswa, tetap akan mendapatkan nilai minimal 80. Perbuatan para  guru yang demikian itu dijustifikasi oleh para kepala sekolah di MKKS  bahwa hal itu tidaklah salah. Karena semua itu demi siswa kita. Kasihan  siswa kalau sampai tidak lulus. Mereka harus ngulang lagi. Malu pada  teman-temannya. Kasihan juga orang tua mereka. Sebab mereka harus  mengeluarkan biaya lagi untuk membiayai sekolah anak mereka selama satu  tahun. Dan berbagai dalih lainnya yang membenarkan tindakan ‘membantu’  semacam itu.</p>
<p>Padahal sebenarnya, kalau kita benar-benar  kasihan kepada para siswa, kita memang menginginkan anak-anak kita  menjadi pandai, kita mengharapkan anak-anak kita agar berkompetisi  secara fair, seharusnya kita jangan melakukan ‘bantuan’ semacam  itu.  Tapi marilah kita bantu mereka dengan mengajar mereka dengan baik, agar  bisa memahami setiap pelajaran yang kita sampaikan. Mari kita pacu  semangat belajar mereka, agar bisa memenuhi apa yang menjadi tuntutan  kelulusan. Atau kalau tidak, mari kita buat kesepakatan nasional untuk  kembali saja ke jaman dulu. Jaman yang tidak ada UAN. Jaman dimana  kelulusan murni ditentukan oleh para guru dan kepala sekolah. Daripada  berharap nilai akademik baik, tapi untuk mewujudkan itu harus ditempuh  dengan cara-cara yang tidak fair seperti ini.</p>
<p>Begitukah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/target-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Memberi Kepada Sesama Muslim</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/keutamaan-memberi-kepada-sesama-muslim/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/keutamaan-memberi-kepada-sesama-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 04:54:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[persaudaraan]]></category>
		<category><![CDATA[semuslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.babulkhairat.net/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[“Wa rubba akhin qashiyyil ‘irqi fihi, saluwwun ‘an akhika minal wulaad = berapa banyak saudaramu, yang tidak mempunyai hubungan darah apapun denganmu, tapi kebaikannya melebihi kebaikan saudara kandungmu.” (Mihyad Addailami) Itu adalah gambaran persaudaraan dalam Islam. Persaudaraan yang tidak diikat &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/keutamaan-memberi-kepada-sesama-muslim/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><a href="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/04/pengemis-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-664" title="pengemis-1" src="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/04/pengemis-1-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" /></a>“Wa rubba akhin qashiyyil ‘irqi fihi, saluwwun ‘an akhika  minal wulaad = berapa banyak saudaramu, yang tidak mempunyai hubungan  darah apapun denganmu, tapi kebaikannya melebihi kebaikan saudara  kandungmu.”</em></strong> (Mihyad Addailami)</p>
<p>Itu adalah gambaran persaudaraan dalam Islam. Persaudaraan yang tidak  diikat oleh kedekatan hubungan darah. Persaudaraan yang timbul karena  kecintaan kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Persaudaraan karena  kesamaan tujuan hidup. Persaudaraan yang tak bisa dipisahkan karena  berbagai perbedaan latar belakang, sosial, ekonomi, politik, dan  budaya. Mereka saling mencintai satu sama lain. Mereka saling  menyayangi satu sama lain. Mereka saling berbagi satu sama lain. Mereka  saling menutupi kekurangan mereka satu sama lain. Mereka diibaratkan  oleh Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> <strong><em>“S</em></strong><strong><em>eperti  satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang merasakan sakit,  maka rasa sakit tersebut akan menjalar ke seluruh tubuh</em></strong><strong><em>”</em></strong> (Hadits Muttafaqun ‘alaihi)<span id="more-660"></span></p>
<p>Mereka adalah manusia yang kata Allah <em>subhanahu wata’ala</em> <strong><em>“Ruhamaa`u  bainahum, taraahum rukka’an sujjadan yabtaghuna fadhlan minallahi wa  ridhwaanahu = Saling mengasihi sesama mereka, engkau lihat mereka ruku’  dan sujud bersama. Mereka mengharapkan keutamaan dan ridha Allah.” </em></strong>(Al-Fath:  29) Rasa cinta dan kasih mereka terhadap saudaranya seiman, bukanlah  kecintaan yang timbul begitu saja. Tapi itu adalah kecintaan yang memang  sengaja dibina oleh pencinta sejati mereka, Nabi Muhammad <em>saw</em>.  Ketika mereka sampai di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan mereka.  Antara Muhajirin dan Anshar ditanamkan rasa cinta yang mendalam di dada  mereka hingga mengantarkan mereka pada puncak <em>itsa</em>r untuk lebih mementingkan kebutuhan saudara muslimnya daripada dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Sa’ad bin Rabi’ <em>ra</em> yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin ‘Auf <em>ra</em>. Sa’ad memberikan separuh harta yang dimilikinya untuk Abdurrahman, termasuk rumah, dan bahkan istrinya!</p>
<p>Perhatikanlah Saudara, bagaimana generasi pertama ummat ini telah  memberikan teladan persaudaraan yang tinggi kepada kita untuk saling  berbagi sesama saudara seiman. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi  yang datang setelah mereka mencontoh kepribadian mereka untuk tidak  segan-segan berbagi dengan saudara seiman kita. Banyak saudara kita yang  kesulitan finansial. Mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup harian  mereka. Mereka tidak bisa makan dengan kebutuhan gizi yang cukup.  Mereka tidak mampu membeli pakaian layak untuk dikenakan. Mereka tidak  mempunyai rumah yang layak untuk berteduh.  Banyak diantara mereka yang  ketika sakit, mereka tidak mampu untuk membayar biaya berobat di rumah  sakit. Banyak diantara mereka yang tak mampu membayar SPP anak-anak  mereka. Haruskah kita berpangku tangan menyaksikan kenyataan tersebut,  Akankah kita berdiam diri?</p>
<p>Mari kita berbagi dengan mereka. Mari kita sisihkan sebagian harta  yang kita miliki untuk mereka. Sungguh, sekecil apapun harta yang kita  keluarkan untuk mereka, pasti akan kita dapatkan ganjarannya kelak di  sisi Allah. Sebagaimana kata Allah <strong><em>“Fa man ya’mal mitsqala  dzarratin khairan yarah = Barang siapa yang melakukan kebaikan walau  seberat dzarrah, pasti akan mendapatkan (pahala)nya.</em></strong> (Al-Zalzalah: 7) Dan kalau kita gemar membantu kesulitan saudara seiman  kita, maka Allah pun akan senantiasa membantu kita dalam setiap  kesulitan yang kita alami. Sebagaimana kata Rasulullah <strong><em>“  Allahu fi ‘aunil ‘abdi maa daamal ‘abdu fi ‘auni akhihi = Allah selalu  menolong hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya (seiman). </em></strong>(HR. Muslim dan Turmudzi dari Abu Hurairah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/04/18/keutamaan-memberi-kepada-sesama-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2011/01/12/ibu/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2011/01/12/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 23:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiah]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti pada ibu]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab istri]]></category>
		<category><![CDATA[taushiyah Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://babulkhairat.net/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari dunia.” Begitu bait lagu anak – anak yang telah kita hafal di luar kepala sejak kita TK. Iya, kasih ibu memang tiada henti. &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2011/01/12/ibu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/01/kasih-sayang-ibu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-627" title="kasih sayang ibu" src="http://www.babulkhairat.net/wp-content/uploads/2011/01/kasih-sayang-ibu-300x225.jpg" alt="" width="232" height="174" /></a>“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai Sang Surya menyinari dunia.” Begitu bait lagu anak – anak yang telah kita hafal di luar kepala sejak kita TK. Iya, kasih ibu memang tiada henti. Kasihnya kepada kita senantiasa ada, terus ada dalam setiap waktu dan tempat. Dalam segala situasi dan kondisi. Ibu terus dan terus mencurahkan cinta dan kasihnnya kepada kita. Walau banyak diantara kita, anaknya, yang tak pandai berterima kasih. Ibu yang telah mengandung kita. Melahirkan kita dengan taruhan nyawanya. Merawat, mendidik, menjaga kita sejak kita kecil sampai kita besar. Setelah kita besar pun, yang seharusnya kita sudah bisa mandiri, mencuci baju sendiri, mencuci piring sendiri dan merapikan tempat tidur sendiri, tapi tidak sedikit diantara kita yang semua pekerjaan itu masih dikerjakan ibu kita sampai usia kita SMA. Atau bahkan sampai kita dewasa! Pun, masih banyak diantara kita yang masih tetap merepotkan ibu kita. Menjaga rumah , merawat anak-anak kita dan lain sebagainya.<br />
<span id="more-284"></span> Ada seorang pemuda yang menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah. Selama di perjalanan dia merawat dan mengerjakan semua keperluan ibunya. Ibunya makan, dia suapi. Ibunya tidur/rebahan, dia sediakan pangkuannya. Termasuk memandikan dan mengganti bajunya. Dan bahkan sampai (maaf)  buang air besar dan buang air kecil, dia yang nyebokin. Sesampainya di Mekkah, pemuda ini bertemu dengan Umar bin Khaththab ra, dia bertanya pada Umar: “Wahai Amiral mukminin, apakah yang telah aku perbuat untuk ibuku ini, sudah bisa menebus segala kebaikan ibu padaku?” Umar menjawab: “Tidak, sekali-kali tidak! Bahkan hanya untuk membalas satu hempasan nafas ibumu ketika melahirkanmu , semua ini tidaklah cukup!.”<br />
Sodara, memang kebanyakan kita, menyikapi sesuatu yang biasa, itu biasa-biasa saja. Termasuk menyaksikan bagaimana pengorbanan, letih, repot dan perjuangan ibu yang demikian luar biasa, karena itu adalah sesuatu yang biasa terjadi, dan memang begitulah seharusnya, maka kita mengangapnya menjadi biasa-biasa saja. Padahal itu adalah suatu hal yang luar biasa, yang tak akan tertandingi oleh apapun juga. Beda dengan kejadian insidentil, kebetulan, situasional, dan mungkin terjadi hanya sekali saja. Misal, kita kecelakaan di jalan, kemudian ada orang yang menolong kita, maka kita akan sangat berterima kasih pada orang tersebut. Atau mungkin ada orang yang membantu kita mendapatkan pekerjaan, maka kita akan mengenang orang tersebut sebagai pahlawan yang tak akan terlupa.  Padahal Sodara, penolong kita, penyelemat kita dan pahlawan kita yang sejati, adalah ibu kita.<br />
Pun, ketika kita sudah mencintai lawan jenis, begitu mudahnya kita mengalihkan cinta kita dari ibu kita pada orang tersebut. Kita siap setiap saat memenuhi keinginannya, sementara keinginan ibu kita, kita sering kali enggan. Bahkan ketika ibu kita tidak setuju dengan perempuan / lelaki yang kita cintai, kita pun akan melawannya dengan sengit. Dan ketika kelak   orang tersebut sudah menjadi suami atau istri kita kebetulan ia berselisih pendapat dengan ibu kita, kita siap mengobarkan perang dengan ibu kita demi membela ‘kekasih hati’. Padahal cinta orang tersebut kepada kita belumlah banyak teruji.  Istri atau suami kita belum banyak mengetahui kesalahan dan kekurangan kita. Dia tidak banyak menghadapi bandel dan rewel kita. Beda dengan ibu kita, beliau telah menunjukukkan cinta yang tak berperi. Cinta yang tak akan mampu diberikan oleh siapapun juga di muka bumi ini.<br />
Berat beban ibu kita ketika mengandung kita. Beliau tidak bisa berjalan dengan tegak karena perutnya harus menyanggah diri kita. Ketika duduk, berbaring dan berdiri, beliau serba susah melakukannya. Pola makannya tidak normal. Keinginan makanan yang tidak lazim (ngidam), bermacam-macam yang di-inginkan, semua itu karena ada kita di dalam perutnya. Itu ketika kita masih berada dalam kandungan. Ketika kita sudah keluar ke dunia ini, kepayahan ibu tersebut terus berlanjut. Bahkan terkadang lebih melelahkan.<br />
Islam begitu sangat memuliakan ibu. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama menyebutkan bahwa syurga ada di telapak kaki ibu. Artinya, kalau kita ingin selamat di dunia dan akherat, maka kita harus berbakti kepada ibu kita. Ketika Rasulullah saw ditanya tentang manusia yang paling berhak untuk mendapatkan cinta, penghormatan dan pengabdian kita, beliau menjawab “Ibumu, ibumu, ibumu”, baru kemudian “ayahmu”. Kedudukan ibu tiga kali lebih terhormat di atas ayah. Apa lagi manusia lain selain ayah! Sehingga karenanya, sudah sepantasnyalah kalau kita menjadikan ibu kita sebagai manusia pertama yang harus kita mintai ridha (persetujuan)nya kalau kita akan memutuskan sesuatu. Ibu harus kita dahulukan haknya ketika kita akan memberikan hak orang lain. Ibu yang harus terlebih dahulu kita senangkan hatinya sebelum kita menyenangkan orang lain. Ibu adalah orang pertama yang harus kita mintai doa dan dukungannya ketika kita mempunyai harapan yang ingin dicapai.<br />
Satu paket dengan ayah, Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada ibu kita, &#8220;Dan kami perintahkan kepada manusia agar (berbakti) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang teramat sangat, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orang tuamu…&#8221; (QS:Luqman:14). Perintah untuk berbuat baik (berbakti) kepada ibu kita dalam ayat ini bukanlah perintah yang harus ditaati karena bersifat ta’abbudan (keharusan yang tanpa reserve) belaka. Tapi Allah menyertakan alasan-Nya kenapa kita harus berbakti kepada ibu kita. Adalah karena jerih payah dan pengorbanan yang demikian luar biasa yang telah ibu berikan kepada kita. Sehingga karenanya juga, maka kemudian Rasulullah saw menegaskan bahwa barang siapa yang ingin diridhai Allah, maka dia harus mendapatkan ridha ibu (kedua orang tua)nya. Dan barang siapa yang sampai membuat ibu (kedua orang tua)nya marah, maka sesungguhnya ia telah mengundang murka Allah.<br />
Sampai kalau seandainya ibu kita seorang jahat (na’dzu billah) sekalipun, bahkan sampai mengajak kita menyekutukan Allah, kita memang tidak diperbolehkan untuk mengikuti kejahatannya, tapi Allah tetap mewajibkan kita untuk menjaga sikap baik kita kepadanya. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku…” (QS. Lukman: 15)<br />
So, Sodara, berbuat baiklah kepada ibumu sekarang. Jangan tunggu sampai beliau meninggal dunia, baru kemudian kita menyesalinya dengan berkata “Coba kalau seandainya ibu masih hidup, maka aku akan sungguh-sungguh merawat dan berbakti padanya.” Dan bagi yang ibunya sudah terlanjur meninggal dunia, senantiasa berdoalah untuknya, mintalah pada Allah agar Allah melapangkan kuburnya, memaafkan segala kesalahannya, menerima segala amal ibadahnya dan mengumpulkannya dengan orang-orang shaleh serta memasukkannya ke dalam syurga. Dan minta ampunlah juga kepada Allah atas kelalaian kita merawat ibu dan berbakti padanya ketika beliau masih hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2011/01/12/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermanfaat Untuk Orang Lain</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2010/12/26/bermanfaat-untuk-orang-lain/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2010/12/26/bermanfaat-untuk-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 09:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[manusia terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[tidak minder]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://babulkhairat.net/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.&#8221; (HR. Ibnu Hibban dari Jabir ra) Hadis di atas adalah hadis sangat terkenal. Terdapat dalam berbagai riwayat. Termasuk juga ada dalam ashshahihain (shahih Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2010/12/26/bermanfaat-untuk-orang-lain/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/12/tukang-sampah2.jpg"><img class="size-full wp-image-194 alignleft" title="tukang sampah" src="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/12/tukang-sampah2.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a><br />
&#8220;Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain.&#8221; (HR. Ibnu Hibban dari Jabir ra)<br />
Hadis di atas adalah hadis sangat terkenal. Terdapat dalam berbagai riwayat. Termasuk juga ada dalam ashshahihain (shahih Bukhari dan Muslim). Hadis ini  menunjukkan bahwa jadi apapun kita, asal itu memberikan manfaat untuk orang lain, maka saat itu kita telah menjadi manusia terbaik. Anda yang saat ini berprofesi sebagai kuli bangunan, Anda adalah orang terbaik, karena tanpa Anda, bangunan mewah, megah dan menjulang ke angkasa yang kemudian menjadi perkantoran, hotel dan pertokoan itu tak akan pernah ada. Anda yang saat ini office boy, tak usah minder, karena tanpa Anda, maka akan menjadi kotor kantor, hotel dan mall di semua tempat.</p>
<p>Saudara, berapa banyak sampah yang kita hasilkan dari aktivitas kita di rumah, tempat kerja atau di restoran tempat kita makan. Siapa yang membuang semua sampah itu, tukang sampah bukan? Bagaimana jadinya, kalau kita harus membuang sendiri sampah – sampah itu sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA)? Kita pasti akan kerepotan. ‘Pekerjaan’ membuang sampah itu pasti akan mengganggu pekerjaan kita. Dan bahkan akan mengakibatkan berkurangnya produktif kerja kita. Kalau begitu, keberadaan tukang sampah adalah sangat – sangat bermanfaat bagi kita.</p>
<p>Beras yang kita makan sehari – hari, adalah  buah cucuran keringat petani. Ikan yang dengan mudah kita temui di pasar, adalah karena para nelayan membelah lautan, menerjang ombak dan berselimut angin. Daging sapi, kambing, ayam dan telurnya yang tinggal kita masak dan makan, juga adalah hasil para peternak yang untuk mendapatkan semua itu mereka harus menunggu berhari – hari, bulan dan bahkan tahun. Sungguh, kita tak akan pernah mendapatkan makanan apapun tanpa mereka. Walau mungkin uang kita melimpah, seperti Abu Rizal Bakri misalnya ?.</p>
<p>Satu lagi, yang kalau tanpanya, kita tidak akan pernah menjadi manusia. Tanpa keberadaannya, mungkin kita hanyalah makhluk berkaki dua yang kebetulan bisa ngomong. Tidak berbeda dengan binatang lain! Orang yang telah menetapkan kemanusiaan kita tersebut, adalah guru kita. Merekalah  yang telah mengajarkan kepada kita berbagai pengetahuan, sehingga akhirnya kita menjadi utuh sebagai manusia. Sebab, yang membedakan kita dengan binatang, adalah pengetahuaan.</p>
<p>Saudara, mereka adalah orang – orang terbaik di bidangnya masing – masing. Yang sering tidak kita perhatikan keberadaannya. Yang sering kita acuhkan perannya. Dan sering diabaikan kepentingannya oleh para penguasa. Sering dikebiri hak – haknya. Lebih kejam lagi, mereka sering menjadi obyek keserakahan dan kesewenang – wenangan para pengambil kebijakan di negeri ini.</p>
<p>Seharusnya kita berterima kasih kepada mereka. Karena kalau kita sampai tidak berterima kasih kepada mereka, berarti selamanya kita tidak akan pernah berterima kasih (bersyukur) kepada Allah, Tuhan pembuat hidup ini. Sebab kata Rasulullah saw “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, makla ia tak akan pernah bisa berterima kasih (bersyukur) kepada Allah”. Dan kalau kita tidak tidk bersyukur kepada Allah, wajarlah kalau Allah menjadikan bencana seakan tidak mau beranjak dari negeri ini. Karena kata Allah “Jika kalian tidak bersyukur, ketahuilah  bahwa adzabku sungguh teramat pedih”.</p>
<p>Pernah suatu hari, selepas shalat berjamaah bersama para sahabatnya, Rasulullah saw kelihatan mencari – cari seseorang. Para sahabat pun bertanya “Siapakah gerangan yang engkau cari ya Rasulallah?” “Kemana perempuan yang biasa menyapu di masjid ini?” Rasulullah balik bertanya. Mendengar pertanyaan Rasulullah tersebut, para sahabat saling berpandangan. “Ada apa ini? Kenapa kalian seakan menyembunyikan sesuatu daruku?” Tanya Rasulullah kembali,  semakin menunjukkan keheranannya. Seakan dikomando, para sahabat serempak menjawab “Wanita itu telah meninggal dunia wahai nabi Allah” “Kenapa kalian tidak memberitahu?” Kembali Rasulullah bertanya. Kali ini dengan  suara yang agak tinggi. “Sekarang antarkan aku ke kuburan orang itu” Rasulullah saw beranjak diikiuti semua sahabatnya.</p>
<p>Perhatikan Saudara, bagaimana Rasulullah sangat peduli pada wanita penyapu masjid tersebut, yang dalam riwayat yang saya baca, wanita tersebut adalah wanita kulit hitam yang tidak bagus rupanya. Tapi keberadaannya begitu sangat berharga di mata manusia terbaik, Rasulullah Muhammad saw. ‘Hanya’ karena dia adalah tukang sapu masjid yang telah memberikan banyak manfaat kepada kaum muslimin lainnya.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kita, sudahkah kita memberikan penghargaan, kepedulian dan apresiasi kepada mereka yang telah memberi banyak manfaat kepada kita. Ataukah kita juga termasuk ke dalam golongan orang – orang tak tahu diri yang juga ikut memingirkan mereka?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2010/12/26/bermanfaat-untuk-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menggapai Cita</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/mari-menggapai-cita/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/mari-menggapai-cita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 08:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bercita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[optimisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://babulkhairat.net/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Di waktu kemarau berharap bunga mekar, tumbuhan menghijau, jalanan basah, mendung membalut langit dan bumi pun teduh selalu. Itu adalah harapan yang tak akan mungkin terjadi. Pengantin baru berharap malam panjang, tak menginginkan datangnya pagi, itu pun harapan yang hanya &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/mari-menggapai-cita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di waktu kemarau berharap bunga mekar, tumbuhan menghijau, jalanan basah, mendung membalut langit dan bumi pun teduh selalu. Itu adalah harapan yang tak akan mungkin terjadi. Pengantin baru berharap malam panjang, tak menginginkan datangnya pagi, itu pun harapan yang hanya sebatas harapan. &#8220;Pungguk merindukan bulan&#8221;, begitu kata pepatah untuk orang yang mengangankan sesuatu yang mustahil.</p>
<p>&#8220;Gantungkan cita-citamu setinggi langit,&#8221; begitu kata Bung Karno. Ada juga yang mengatakan, &#8220;Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemaren.&#8221; Tak salah memang kalau kita bercita-cita setinggi langit sekalipun. Mempunyai harapan besar, tidak ada yang melarang. Siapa yang menduga seorang Hasan Al-Banna, yang guru SD itu, berhasil menghimpun barisan, menyusun kekuatan, mengorganisir banyak orang dan mendoktrin mereka untuk berada dalam suatu perkumpulan besar yang menjadikan mereka seperti negara di dalam negara. Sehingga akhirnya Raja Farouq harus menyingkirkannya dengan membunuhnya.</p>
<p>Tapi setelah kematian Hasan Al-Banna, jamaah yang telah didirikannya tidaklah serta merta bubar. Malah semakin menjadi besar, militan, padu dan rapi. Bahkan Ikhwanul Muslimin (setidaknya pemikirannya), saat ini sudah ada di hampir seluruh negara. (Saya tidak mengatakan seluruh negara. Karena saya tidak tahu pasti. Mohon koreksi dari teman-teman yang mengetahui) Tapi yang pasti, bahwa Ikhwan sekarang sudah ada di seluruh benua. Hasan Al-Banna tetap hidup beserta pemikiran, cita-cita dan harapannya.</p>
<p>Orang-orang Quraisy di Mekkah 1400 tahunan yang lalu, tak seorangpun diantara mereka yang menduga bahwa seorang anak yatim piatu, penggembala kambing, dan terakhir adalah sales, bisa jadi pemimpin besar, yang berhasil menaklukkan raja-raja dan kaisar. Namanya pun kemudian dipuja puji di setiap tempat, di setiap waktu, di setiap keadaan. Sekian banyak buku ditulis untuk menceritakan kehebatannya. Pengikutnya pun sampai saat ini adalah satu milyar dari total lima milyar penduduk bumi.</p>
<p>Iyaa, Rasulullah Muhammad saw, Sang Nabi akhir zaman itu telah menjungkir balikkan logika masyarakatnya. Mungkin anda mengatakan, itu kan nabi, memang sudah dipilih Allah. Semua urusannya telah diatur oleh Allah. Bahkan berbagai kemenangannya dalam berbagai laga yang tak seimbang, pun sudah direncanakan oleh Allah. Tapi bukan itu yang kita bicarakan sekarang. Tapi coba tengok bagaimana beliau Rasulullah saw sangat gigih memperjuangkan visi (risalah)nya. Coba dengar apa yang dikatakannya kepada Abu Thalib, ketika pamannya tersebut menyampaikan keinginan para pemuka Quraisy yang akan memberinya apa saja, asalkan beliau bersedia menghentikan dakwahnya. &#8220;Kalau seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan menghentikan dakwah ini, sampai Allah memenangkannya, atau aku mati di dalamnya.&#8221;</p>
<p>Sebagai rasul Allah yang telah dijanjikan kemenangan, junjungan kita Nabi Muahmmad saw tidak lantas santai-santai saja, banyak beristirahat, dan pasrah berdoa berharap menang. Tapi beliau terus berjuang dengan segala yang ada pada beliau, harta, jiwa dan dukungan seluruh sahabat dan kerabat setianya. Beliau ikut terjun dalam kancah peperangan, sampai nyaris terbunuh. Beliau terluka, berdarah dan tanggal gigi beliau. Beliau ikut bekerja, beliau terus tanpa henti mengajak manusia ke jalan Allah.</p>
<p>Dengan segala dinamikanya, cita-cita beliau untuk menjadikan semua manusia beriman, tak pernah kendor walau sesaat pun. Posisi beliau sebagai utusan Allah, nabi Allah, memang sudah dijamin oleh Allah untuk akhirnya berhasil menyampaikan risalahnya yang telah menjadi citanya selama 23 tahun. Tapi yang pasti, bahwa risalah itu beliau emban dengan penuh kesungguhan dan perjuangan yang gigih. Itu adalah syarat kemenangan yang tetap harus beliau penuhi sebelum Allah memberikan janji kemenangan itu.</p>
<p>Nah Sodara, Allah memang tidak pernah kesulitan untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan kita. Allah mudah saja untuk mewujudkan cita-cita kita. Tapi Allah tetap tidak mengenyampingkan syarat kesungguhan dan kerja keras yang berkesinanbungan (istiqamah) yang harus kita penuhi sebelum Allah mengabulkan segala cita dan asa kita. Tak ada yang mustahil untuk terjadi. Tak ada cita-cita tinggi yang tak bisa diraih. Tapi dengan SYARAT&#8230;!</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/mari-menggapai-cita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ghayah Laa Tudrak</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/ghayah-laa-tudrak/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/ghayah-laa-tudrak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 08:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[keinginan tak tercapai]]></category>
		<category><![CDATA[teguh]]></category>
		<category><![CDATA[tidak putus asa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://babulkhairat.net/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Mengharap semua manusia suka, setuju atau mendukung semua sikap kita, adalah keinginan yang tak mungkin kan terwujud. Mungkin tidak ada yang salah pada diri kita. Semua apa yang kita sampaikan, juga adalah kebaikan. Tapi tetap saja hal tersebut tidak bisa &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/ghayah-laa-tudrak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_170" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/12/imposible.jpeg"><img src="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/12/imposible-150x150.jpg" alt="imposible" title="imposible" width="150" height="150" class="size-thumbnail wp-image-170" /></a><p class="wp-caption-text">imposible</p></div>Mengharap semua manusia suka, setuju atau mendukung semua sikap kita, adalah keinginan yang tak mungkin kan terwujud. Mungkin tidak ada yang salah pada diri kita. Semua apa yang kita sampaikan, juga adalah kebaikan. Tapi tetap saja hal tersebut tidak bisa dijadikan jaminan bahwa orang lain akan simpati dan berpihak pada kita.</p>
<p>Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah kaum mukminin yang menjadi khalifah seratus tahun setelah khilafah rasyidah berlalu. Tapi, beliau berhasil menghadirkan kembali nilai-nilai petunjuk (kebaikan) yang dulu diperagakan oleh Alkhulfaa&#8217;ur Rasyidun, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu &#8216;anhum. Sehingga karenanya, beliau dikatakan sebagai khalifah yang ke lima setelah empat khalifah tersebut. <span id="more-162"></span></p>
<p>Umar bin Abdul Aziz adalah manusia langka yang pernah hidup di zamannya, zaman yang sebenarnya telah cukup jauh terpaut (100 tahun) dari generasi terbaik, Rasulullah dan para sahabatnya. Konon, selama menjadi khalifah (dua tahun), Umar bin Abdul Aziz hanya dua kali junub. Beliau sedikit sekali tidur malam, karena ngelembur tugas negara yang tak terselesaikan di siang hari. Selebihnya, beliau pergunakan untuk qiyaamul lail, bermunajat kepada Tuhannya. Sedangkan di siang hari, beliau benar-benar tenggelam dengan berbagai urusan, melayani rakyatnya. Beliau juga sangat hati-hati sekali menggunakan fasilitas negara, sampai-sampai anaknya yang menemuinya karena masalah pribadi, di malam hari, beliau mematikan lampu. Karena beliau sadar betul bahwa minyak lampu tersebut dibeli dengan uang negara. Sehingga tidak mengherankan dengan kesungguhan semacam itu, beliau berhasil mengembalikan kejayaan Islam. Rakyat makmur, segala kebutuhan mereka tercukupi, rasa keadilan mereka juga terpenuhi, dan yang pasti, masyarakat sangat mencintainya. Bagaimana tidak, ketika itu para &#8216;amil (petugas) zakat harus berkeliling Afrika untuk mencari penerima zakat, tapi tetap nihil. Karena memang ketika itu sudah tidak ada lagi orang miskin.</p>
<p>Tapi, apakah Anda mengira bahwa dengan segala kebaikan yang Umar bin Abdul Aziz lakukan seperti itu, kemudian semua orang suka pada beliau. Sekali-kali tidak! Nyatanya beliau meninggal karena dibunuh, setelah dua tahun kepemimpinannya. Nah, apalagi kita, yang belum jelas kebaikannya, belum tampak keberpihakannya kepada masyarakat, kemudian kita berharap agar semua orang suka pada kita. Oleh karena itu, menggelikan sekali ketika ada pemimpin kita yang lebay, sedikit-sedikit mengadu, bahwa dia dizhalimi. Sebentar-bentar melaporkan rakyatnya pada polisi, karena dianggap menghinanya. Ada juga yang marah karena tidak dihargai setelah merasa &#8216;bekerja keras&#8217; untuk rakyat.</p>
<p>Ketika kau yakin bahwa hanya kebaikan yang kau lakukan, segala apa yang kau perbuat memang diperuntukkan untuk rakyat, teruslah melakukan, jangan pedulikan omongan orang yang gak ada kerjaan. Memang ini adalah zaman, dimana banyak sekali orang ngomong, tapi tak mau bekerja. Tapi, kalau memang kritikan, koreksi dan kontrol yang orang sampaikan padamu, adalah benar adanya, tak usah alergi, tak usah belingsutan dan tak usah meradang. Terimalah masukan itu dengan tangan terbuka. Akomodasi setiap saran yang sampai kepadamu. Kemudian diskusikan dengan kawan dan para pembantumu.</p>
<p>Dengan begitu, kau akan lepas menjalankan tugas kepemimpinan, bukan berdasarkan tekanan dan kepentingan orang-orang tertentu, tapi benar-benar untuk kemaslahatan orang banyak, baik yang sekelompok denganmu, atau yang di luar kelompokmu. Baik mereka yang mengagumimu, atau yang membencimu sekalipun.</p>
<p>Orang boleh menilai kita sesuka hati mereka. Menghujat dan menelanjangi kekurangan dan kesalahan kita habisa-habisan. Tapi, percayalah, bahwa sejarah tak pernah berdusta untuk menceritakan semua kebaikan dan karya nyata kita. Dan yang pasti, bahwa semua kemaslahatan yang kita persembahkan untuk manusia dan semesta, sejatinya adalah untuk kita. Ganjaran sejati hanya akan kita dapati kelak di sisi Allah, dengan ganjaran yang berlipat ganda banyaknya. (Almuddatsir: 20)</p>
<p> ****<br />
<em>Gambar di ambil dari http://tujefetevigila.com</em></p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2010/12/16/ghayah-laa-tudrak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keselarasan Antara Beribadah, Bekerja Dan Beristirahat</title>
		<link>http://www.babulkhairat.net/2010/11/09/ibadah-istriraha/</link>
		<comments>http://www.babulkhairat.net/2010/11/09/ibadah-istriraha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 07:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja dan beribadah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[penghambaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://babulkhairat.net/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Mengantuklah, karena itu tak dilarang. Tidurlah, karena mata juga perlu beristirahat. Beristirahatlah, karena tubuh juga harus direbahkan. Merebahlah, karena lelah juga perlu dihilangkan. Kawans, kalau kita mau jujur, sebenarnya memang, bahwa waktu yang kita punya tak lebih banyak dari kewajiban &#8230; <a href="http://www.babulkhairat.net/2010/11/09/ibadah-istriraha/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_174" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/11/tidur.jpeg"><img src="http://babulkhairat.net/wp-content/uploads/2010/11/tidur-150x150.jpg" alt="tidur" title="tidur" width="150" height="150" class="size-thumbnail wp-image-174" /></a><p class="wp-caption-text">tidur</p></div>Mengantuklah, karena itu tak dilarang. Tidurlah, karena mata juga perlu beristirahat. Beristirahatlah, karena tubuh juga harus direbahkan. Merebahlah, karena lelah juga perlu dihilangkan.</p>
<p>Kawans, kalau kita mau jujur, sebenarnya memang, bahwa waktu yang kita punya tak lebih banyak dari kewajiban yang harus kita tunaikan. Namun walau demikian, Allah tak pernah zhalim dengan membebani hambanya dengan apa yang tak mampu diembannya.</p>
<p>Tapi, jangan lantas kelonggaran yang Allah berikan, kita jadikan pembenaran untuk melalaikan berbagai kewajiban kita. Kita tetap harus menunaikan kewajiban dan tanggung jawab kita dengan sebaik mungkin. Baik kewajiban kita sebagai hamba Allah yang harus beribadah kepadaNya. Sebagai anggota masyarakat yang harus bersosialisasi dengan mereka. Sebagai kepala keluarga yang harus mencari nafkah. Sebgai ibu rumah tangga yang harus mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Sebagai pekerja yang harus profesional. Sebagai pelajar, yang harus rajin. Atau sebagai warga negara yang harus berpartisipasi dalam pembangunan. Lebih-lebih sebagai da&#8217;i yang harus selalu memberikan pencerahan kepada ummat.<span id="more-45"></span></p>
<p>Kerja tubuh dan otak kita memang punya masa penat dan bosan. Untuk itu, bila kita penat, maka kita perlu istirahat dulu. Atau jika kita bosan, berarti kita perlu refresing untuk sementara waktu. Kita tidak boleh terlalu memforsir diri, hanya karena ingin memenuhi target. Allah saja, Sang Pemilik diri ini, tak membebani kita, kecuali sebatas yang kita mampu. Kenapakah kita sendiri yang harus menyiksa diri? Inilah yang disebut menganiaya diri sendiri.</p>
<p>Banyak orang bekerja, begitu sangat &#8220;ngoyo&#8221;. Kepala dijadikan kaki, kaki dibuat kepala. Siang dibuat malam, malam dijadikan siang. Mereka beranggapan, bahwa kalau mereka tak melakukan itu, maka tak akan mendapatkan apa-apa. Betulkah? Lupakah mereka, bahwa yang memberi rizqi adalah Allah. Allah bisa memberikan rizqi dengan cara apa saja yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>Bekerja hanyalah syarat untuk mendatangkan rizqi. Dan yang namanya syarat, sudak lazim kita ketahui, bahwa ia mempunyai batasan-batasan tertentu. Tak boleh kurang ataupun berlebih. Nah, kalau sudah bekerja menyalahi batasan-batasan tersebut, maka yang terjadi, adalah rusaknya syarat dari semestinya yang diinginkan. Dan kalau syarat sudah rusak, berarti bisa dipastikan, apa yang diinginkan dengan syarat itu, juga tak akan didapat.</p>
<p>Yang kita inginkan adalah rizqi yang halal dan barakah (baca berkah). Syaratnya, tentu dengan bekerja. Tapi, kerja yang wajar-wajar saja. Tak boleh ngoyo. Sebab kalau kita bekerja terlalu ngoyo, maka akan mengabaikan tugas kita untuk beribadah dengan baik (baca shalat tepat waktu). Padahal beribadah, adalah tujuan utama penciptaan manusia maupun jin. Sehingga kalau ibadah terabaikan, dikarenakan terlalu asyik bekerja, itulah yang saya maksud di atas sebagai syarat yang rusak.  Dan kalau sudah begitu, jangan pernah berharap untuk mendapatkan rizqi yang halal plus barakah. Bisa jadi ia memang akan mendapakan banyak uang dari kerja kerasnya. Tapi ketahuilah, bahwa semua itu tidaklah berkah. Dan harta yang tidak berkah, biasanya akan mencelakakan pemiliknya. Di Dunia, lebih-lebih lagi kelak di Akherat.</p>
<p>****</p>
<p><em>Gambar diambil dari sini <a href="http://pharmaprojects.com">http://pharmaprojects.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.babulkhairat.net/2010/11/09/ibadah-istriraha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

