Penjajahan Atas Wanita

“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu”. Kira-kira begitulah bunyi lagu yang cukup terkenal beberapa tahun lalu. Wanita dalam lagu itu digambarkan sebagai korban laki-laki. Karena wanita memang hanya dikenal sebagai konco wingking yang hanya tahu kasur, sumur dan dapur. Wanita hanya sebagai obyek dan bukan sebagai subyek. Di kalangan bangsa Arab jahiliyah sebelum datangnya Islam pun perempuan tak lebih seperti budak yang kerjanya melayani para lelaki dan melahirkan anak-anak mereka. Bayi perempuan yang baru lahir pun tak segan mereka kubur hidup-hidup karena tak mau menganggung malu.

Seiring perkembangan zaman yang semakin maju dan modern, emansipasi mulai di hembuskan. Di Indonesia, emansipasi dimulai dengan munculnya ide-ide dari RA Kartini yang dikenal sebagai pelopor emanspasi wanita. Banyak wanita yang menuntut persamaan hak dengan laki-laki termasuk dalam hal pendidikan, karier, dan lainnya. Dalam islam menuntut ilmu bukan dominasi laki-laki semata. “ Thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimat”. Itulah hadist yang popular dan wajib dihapal oleh setiap penuntut ilmu muslim.

Namun hembusan emansipasi dan kebebasan wanita tanpa disadari telah membuat sebuah penjajahan baru bagi perempuan. Bagaimana tidak? Wanita lagi-lagi menjadi komoditi dan sasaran empuk berbagai bidang. Iklan misalnya, hampir tidak ada iklan yang tidan menggunakan wanita sebagai daya tarik konsumen. Belum lagi target iklan itu sendiri. Misalnya dalam sebuah iklan pemutih wajah menggambarkan bahwa wanita yang cantik adalah  wanita yang berkulit putih, cerah, berkilau, dan sebagainya. Bila seorang wanita berkulit putih ia akan dikejar-kejar dan disukai oleh banyak pria. Jadi wanita harus punya daya pikat kecantikan, kulit putih, gigi bersinar agar disukai pria. Lihat kan! Akhirnya wanita tetap jadi obyek.

Bagaimana pula dengan berbagai ajang dan kontes yang sedang marak diadakan, Putri Indonesia, Miss Indonesia, Miss celebrity, Miss produk ini, Miss produk itu, Miss Universe, Miss World, Miss International, dan lainnya. Semua menjadikan wanita sebagai tontonan. Dan para wanita hanya dibingungkan dengan urusan kecantikan wajah, langsingnya tubuh, kulit putih, rambut terawat. Konon mereka harus punya 3B, Brain, Beauty and Behavior ( otak, kecantikan, perilaku). Berarti mereka juga memperhitungkan kecerdasan kan? Ya, tetapi seberapa besar prosentasenya dibandingkan penilaian fisik mereka?

Buktinya mereka harus melewati sesi pakaian renang untuk melihat secara detail lekuk tubuh mereka. Mereka harus punya tinggi minimal dan badan ideal. Tetapi mereka tak harus mahir bahasa Inggris, padahal bahasa Inggris adalah bahasa yang lazim digunakan secara internasional. Pertanyaan yang diberikan pun terkesan standar dan umum dimana mereka sudah diberi gambaran sebelumnya selama masa karantina. Sedangkan behavior (perilaku) dinilai selama masa karantina. Semua bisa dibuat dan diatur sedemikian rupa sehingga tampak sempurna. Disinilah kita bisa lihat apa yang dinilai dalam kontes ini.

Setiap wanita terlahir dengan bentuk wajah, warna kulit, bentuk tubuh yang tidak serupa. Semuanya merupakan karunia Allah. Jadi manusia tidak berhak menilai bahwa kulit putih lebih baik daripada kulit hitam atau mata besar lebih bagus daripada mata sipit atau rambut lurus lebih indah daripada rambut keriting. Sehingga kita tidak mensyukuri apa yang menjadi kodrat kita. Wanita yang ingin tampil sempurna menurut versi manusia lain, maka ingin melakukan sejumlah perubahan dengan alat pemutih kulit yang ternyata membahayakan, perawatan salon dengan biaya jutaan agar langsing atau yang paling ekstrem adalah melakukan operasi plastic. Itu semua dilakukan agar tampil sempurna dimata orang. Wanita jadi terjajah oleh keinginannya sendiri untuk menjadi sempurna.

Wanita memang selalu ingin tampil cantik. Apalagi media selalu memborbardir kita dengan definisi cantik yang kaku, yaitu dengan batasan-batasan fisik tertentu seperti kulit putih, badan langsing, hidung mancung, dan lainnya. Jadi kita dipaksa untuk menerima definisi itu. Tetapi dalam Islam kita diajarkan untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Jangankan  orang yang berkulit hitam atau berhidung pesek, orang yang tidak mempunyai tangan dan kaki pun bisa mensyukuri nikmatnya hidup jika ia mau. Kita akan terlihat cantik dengan sendirinya jika kita mau bersyukur dan memiliki akhlak  mulia.

Beruntungnya kita memiliki agama yang tak membedakan kasta dan kedudukan manusia apalagi warna kulit seseorang. Seseorang akan dinilai berdasarkan ketakwaannya kepada Allah swt.

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

 Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al hujurat : 13)

Bukan saatnya wanita hanya dinilai dari segi fisik dan kecantikan saja. Sekarang saatnya wanita harus menjadi seseorang yang punya kualitas secara intelektual dan tentunya didasari oleh keimanan dan ketakwaan. Berilmu adalah modal utama seorang wanita, karena dia akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan menjadi madrasah pertama bagi mereka. Karena sesungguhnya kecantikan fisik akan pudar, sedangkan kecantikan akhlak dan kecerdasan iman tak akan pudar dimakan oleh waktu. Wallahua’lam Bishawab.

Fatimah Alatas

 

This entry was posted in Kajian and tagged , . Bookmark the permalink.