Mewaspadai Maksiat dalam Kemasan

Jika anda belajar ilmu ekonomi, maka anda akan mengenal salah satu cabang ilmu ekonomi yaitu pemasaran. Dalam ilmu pemasaran  dikenal istilah packaging dalam sebuah produk. Packaging atau kemasan penting karena merupakan salah satu strategi dalam menarik segmen pasar yang dituju. Lihat saja beberapa produk-produk lama telah mengubah kemasan lama menjadi yang baru sehingga tidak akan kalah dan tersaingi dengan produk baru yang mempunyai kemasan lebih menarik. Bahkan terkadang walaupun  barang tersebut tidak berkualitas, tetapi dikemas menarik dan elegan maka  konsumen akan tertarik setidaknya untuk mencoba. Dengan kata lain, kemasan merupakan citra positif yang tampak dari luar tapi tak dapat dipastikan kualitas isinya.

Tampaknya saat ini bukan hanya produk-produk pasar saja yang menggunakan strategi ini. Kini, berbagai bidang dalam kehidupan sosial, politik, media pun menggunakan strategi tersebut. Semua dikemas dalam sebuah kemasan yang menarik untuk membuat produknya laku.  Sebagai contoh di bidang media, kita lihat bagaimana sebuah televisi milik pemerintah yang ditinggal oleh pemirsanya yang lebih memilih untuk menyaksikan televisi swasta yang dikemas lebih menarik. Karena jika dilihat dari segi isi, menurut saya tidak jauh berbeda. Bahkan TV pemerintah banyak menyiarkan siaran pendidikan yang berkualitas. Namun sekali lagi, karena kemasan yang kurang menarik membuat banyak pemirsa memilih TV swasta dengan kemasan yang lebih berani. Misalnya saja dalam sebuah acara dialog, sajian yang ditampilkan tidak saja hanya menampilan dialog biasa tapi yang ditampilkan adalah orang-orang yang mampu berdebat dan bersilat lidah agar lebih menarik dan provokatif sehingga rating pun bisa naik.

Dalam memasarkan kemaksiatan dan produk-produk perusak iman, tipuan packaging juga menjadi strategi andalan musuh terbesar bani Adam yaitu iblis. Ada istilah tazyinul ma’ashi yaitu teknik mengemas maksiat agar terlihat baik atau minimal tidak terlihat terlalu jelek di mata manusia. Maksiat yang dikemas dengan cerdas dan menarik akan tetap dibeli manusia. Sebuah maksiat yang diharamkan syariat Islam akan menjadi samar-samar dan pada akhirnya akan diterima dan dianggap sah-sah saja di mata masyarakat.

Kita ambil contoh bagaimana waria yang dulu dianggap tabu dan tidak wajar, namun saat ini kaum abu-abu itu menjadi sosok yang sangat diterima di masyarakat. Peran dalam sinetron, presenter, humor akan semakin meriah dengan penampilan seorang lelaki kemayu. Menjual peran waria di dunia hiburan sangatlah prospektif, sehingga ada pemakluman bahwa hal itu dilakukan untuk mencari rezeki dan seharusnya memang tidak menjadi masalah karena hanya sebagai hiburan. Padahal di dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhori, Rasulullah melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki. Disinilah kelihaian iblis yang perlahan tapi pasti merubah sebuah syariat menjadi tak berarti. Kita bisa lihat licinnya trik musuh kita ini dalam menyesatkan manusia. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut ini :

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (Al Hijr : 39-40)

Trik-trik yang dilakukan iblis melalui metode kemasan selalu fleksibel dan mengikuti perkembangan zaman. Setiap celah dimanfaatkan oleh setan untuk mengelabui manusia. Bagaimana setiap generasi diciptakan idola-idola baru yang secara global digandrungi oleh seluruh dunia tak terkecuali umat Islam. Dunia musik selalu melahirkan penyanyi atau band-band baru yang secara tidak langsung mempromosikan mode pakaian terbaru, tren rambut terbaru, lagu-lagu cinta dan kebebasan. Bahkan istilah pacaran yang jelas dilarang dalam Islam dapat disamarkan oleh iblis dengan mengeluarkan istilah pacaran Islami dengan kemasan manis berupa tujuan untuk membina rumah tangga. Padahal intinya adalah sama, berdua-duaan, pendekatan ke arah zina, dan pergaulan bebas. Hamil di luar nikah pun dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah dimana seorang pezina yang mempertahankan anaknya hingga lahir kedunia diberi penghargaan dan dianggap sebagai pahlawan karena memilih untuk mempertahankan kandungannya daripada menggugurkannya. Maka tidak heran saat ini orang menjadi biasa mendengar dan menyaksikan peristiwa MBA ( married by accident ).

Film-film yang baru pun semakin canggih dalam menyampaikan misi-misinya. Pornografi misalnya, jika dijual dalam bentuk apa adanya pasti akan ditolak oleh masyarakat. Lalu dikemaslah pornografi itu dalam sebuah film komedi atau horor yang akan lebih diterima oleh masyarakat luas. Karena dalam kedua jenis film itu akan mengaburkan tujuan sebenarnya. Penampilan seronok akan dianggap wajar dan biasa serta adegan-adegan mesum dianggap sebagai lelucon yang membuat tertawa penonton. Orangtua pun tanpa khawatir membiarkan anak-anaknya menonton film-film tersebut, karena sedikit demi sedikit ditanamkan sifat permisif dan pemakluman pada diri orangtua.

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). “ (QS AlAraf 17)

Ayat diatas merupakan pernyataan iblis bahwa dia akan berjuang dengan segala kemampuannya untuk menyesatkan manusia akibat dari rasa sakit hatinya karena dinyatakan tersesat oleh Allah dengan segala kemampuan yaitu dari arah depan, belakang, kiri dan kanan. Sebagaimana yang dia utarakan pada ayat sebelumnya. “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus”.  Menurut penjelasan Imam At Thobari tentang ayat ini, iblis mendatangi manusia dari semua arah kebaikan dan keburukan. Dia memalingkan manusia dari yang haq dan menganggap baik setiap yang bathil. Dia juga selalu berusaha memalingkan manusia dari semua perintah Allah dan menghiasi serta memandang indah larangan Allah dan mengarahkan manusia untuk mengerjakannya.

Bila kita amati surat Al A’raf diatas menyebutkan arah jeratan iblis dari kiri, kanan, depan dan belakang, lalu bagaimana dengan atas dan bawah? Mungkinkah masih ada celah untuk lolos dari jerat tipu daya setan dari arah tersebut? Imam At Thobary mengutip Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat tersebut tidak menyebutkan datangnya pengaruh setan dari atas, sebab rahmat Allah turun kepada setiap hamba dari arah atas. Arah atas menunjukkan rahmat dan kasih sayang Allah yang mutlak diberikan oleh sang Pencipta kepada siapapun yang dikehendakinya. Sedangkan arah bawah adalah lambang kesadaran manusia akan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menyelamatkan dirinya, kecuali dengan bantuan Allah swt. Dengan demikian perpaduan atas dan bawah tersebut menjadi sebuah kesatuan dimana ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah swt akan menjadi umpan untuk meraih rahmat dan kasih sayang Allah.

Masih banyak lagi tipuan-tipuan yang dilakukan oleh iblis di sekitar kita. Yang harus kita lakukan adalah selalu aware (sadar) musuh kita tidak akan pernah menyerah. Trik sehalus apapun pasti dilakukan. Meskipun kita telah melakkan sejumlah kebaikan, ibadah dan jauh dari perbuatan maksiat, sebaiknya jangan berpuas hati dulu. Mungkin ibadah yang kita lakukan masih dibumbui oleh ujub, riya’, kebaikan yang kita lakukan masih belum ikhlas, karena tipu daya setan bisa berwujud apapun dan dimana pun. Beruntunglah kita memiliki Allah yang selalu melindungi kita selama kita masih berada di dalam koridor ketaatan dan keimanan.

Fatimah Azzahrah Alattas, SE
( Guru Bahasa Inggris SMP Babul Khairat)

This entry was posted in Kajian and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.