Tibbun Nabawi

“Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit melainkan juga menurunkan obatnya.” (HR. Al-Bukhari)

Istilah Thibbun Nabawi pertama kali dipopulerkan oleh dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk menunjukan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan pada Allah sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurafat.

Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua sumber utama dalam ajaran Islam. Tentunya, ilmu kedokteran nabi adalah bidang khusus yang hanya dapat dipahami dan dipraktekkan secara mendalam oleh seseorang yang memiliki bekal pengetahuan tentang akidah dan filsafat Islam, dan pada saat yang sama juga menguasai ilmu kedokteran

Kebenaran Thibbun Nabawi

Dulu sedikit saja orang yang meyakini bahwa Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Nabi mampu mengatasi penyakit-penyakit yang di kalangan medis modern diyakini sebagai penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan.

Mereka tidak bisa menalar, bagaimana orang yang mengalami stroke, tekanan darah tinggi, diabetes, dan jantung koroner dibekam, dikeluarkan darah dari permukaan kulitnya, lantas ia bisa memperoleh kesembuhan?

Bagaimana pula ruqyah, madu, habbatus saudaa`, minyak zaitun, dan berbagai resep-resep pengobatan dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara mencengangkan, cepat bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang dianggap kronis dengan mudah dan murah, tentu dengan izin Allah subhanahu wata’ala.

Saat ini sudah tak terhitung manusia yang membuktikan bahwa resep-resep dari Al-Quran dan As-Sunnah benar-benar mujarab. Berbagai testimoni bukti kebenarannya banyak dilakukan banyak orang. Itulah sebabnya, semakin banyak orang yang mempelajari dan mempraktikan Thibbun Nabawy.

Maha Benar Allah, yang telah berfirman:

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap cakrawala dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar.” (Fushshilat:63)

Tibbun Nabawy adalah fakta ilmiah yang tak dapat lagi ditolak kebenarannya. Hal tersebut karena sumber rujukannya adalah manusia mulia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama yang semua apa yang beliau sampaikan tidak berdasarkan hawa nafsu, tapi semuanya adalah informasi dari Allah swt yang mencipta semua penyakit beserta obatnya sekaligus.

This entry was posted in Tibbun Nabawi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.