Sekilas Liku Pondok Pesantren Babul Khairat Menuju Pesantren Terpadu (2)

Pada tahun pertama SMP dan SMA Babul Khairat beroperasi, kami agak
kesulitan menyuruh para santri, untuk mengikuti pembelajaran di
jengang pendidikan formal ini. Ini khusus mereka yang memang datang ke
pondok hanya berniat untuk belajar diniyah saja. Beda dengan mereka
yang memang selama ini sudah sekolah formal di luar. Tentunya, mereka
sudah tidak kesulitan lagi beradaptasi dengan tambahan materi
pelajaran umum di kelas. Namun, pengasuh waktu itu, al-Habib Muhsin
Bin Umar Alattas, menegaskan bahwa sekarang kita tengah berada di
zaman, dimana latar belakang pendidikan formal juga sangat menentukan
seseorang untuk bisa berkompetisi di tengah masyarakat. Akhirnya
mereka bisa mengerti, dan dengan kesadaran, sebagian diantara mereka
bersedia ikut belajar di SMP dan SMA.

Waktu terus berjalan, setiap tahunnya pada penerimaan santri baru,
semakin sedikit saja santri mendaftar yang hanya berniat untuk belajar
diniyah saja. Puncaknya pada tahun 2009 ini, dari empat puluh-an
santri baru yang masuk, tercatat hanya tiga orang saja diantara mereka
yang tidak mengikuti pendidikan formal. Sehingga ketika itu, pengurus
akhirnya berkesimpulan bahwa untuk mencapai model pendidikan pesantren
dan formal yang ideal, diperlukan adanya integrasi diantara keduanya.
Sudah tidak zamannya lagi, ada dikotomi antara pendidikan agama dan
pendidikan umum. Karena pada hakekatnya, semua ilmu itu adalah ilmunya
Allah Ta’ala.

Dalam upaya untuk membuat konsep terpadu itu, pengurus kemudian
berusaha untuk membuat wadah yang bisa memadukan dua lmodel lembaga
itu, baik materi maupun legal formalnya. Setelah mengumpulkan
informasi dan hasil study banding ke Pondok Pesantren Sidogiri,
Pasuruan, maka pengurus memutuskan untuk mengajukan diri menjadi
pesantren mu’adalah. Setelah mempelajari konsep mu’adalah dari
Pesantren Sidogiri, kami yakin bahwa kami mampu dan layak untuk
melakukannya. Karena secara tata kelola adminstrasi, materi pelajaran
(umum), kitab-kitab panduan (materi pelajaran diniyah), maupun SDM
kita telah siap. Apalgi kalau terkait dengan lima pilar prinsip
belajar: 1. Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Allah swt, 2.
belajar untuk memahami dan menghayati, 3. Belajar untuk mampu
melaksanakan dan berbuat secara efektif, 4. Belajar untuk hidup
bersama dan berguna bagi orang lain, dan 5. belajar untuk membangun
dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan. Pun semua itu telah kami
laksanakan.

Untuk lebih mengetahui tentang prosedur dan syarat pengajuan menjadi
pesantren terpadu, salah seorang pengurus pun berangkat ke Jakarta,
guna mencari tahu lebih jauh lagi tentang konsep dan mekanisme
pengajuan pesantren mu’adalah dari Direktorat Pendidikan Diniyah Dan
Pondok Pesantren Departemen Agama Pusat. Dari sana kami mendapakan
beberapa informasi. Diantaranya, bahwa pondok pesantren – pondok
pesantren yang sebelumnya telah di mu’adalah-kan, itu adalah hasil
penjaringan Depag sendiri, yang memang, yang dijaring adalah
pondok-pondok besar dan lama saja. Jadi wajar, kalau Pondok Pesantren
Babul Khairat, sebagai pondok baru (berdiri tahun 1998), dan muridnya
pun tak lebih dari 140 santri, tidak ikut terjaring dalam penjaringan
itu. Walau mungkin secara kelayakan, memang sudah sejajar dengan
pondok-pondok besar tersebut. Dalam kesempatan bertandang tersebut, setelah
“presentasi” lisan tentang berbagai satuan pendidikan yang ada di
Babul Khairat, jenjang pendidikan (formal dan pesantren), struktur
kurikulum, status kepemilikan tanah, bangunan gedung dsb, akhirnya kami
dipersilahkan untuk mengajukan proposal dengan sebelumya disuruh meminta
rekomendasi terlebih dahulu dari Depag Kabupaten dan Kanwil Depag
Propinsi.

[bersambung]

This entry was posted in Berita and tagged , , , . Bookmark the permalink.