Meneladani Siti Khadijah ra

Al Habib Umar bin Hafidz, Hadhramaut Yaman

Mengenang Siti Khadijah ra berarti kita mengingat sejarah perjuangannya dalam mendampingi Rasulullah. Siti Khadijah berasal dari keturunan yang terhormat, mempunyai harta kekayaan yang tidak sedikit seerta terkenal sebagai wanita yang tegas dan cerdas. Bukan sekali dua kali pemuka kaum Quraisy mencoba untuk mempersunting dirinya. Tetapi pilihannya jutru jatuh pada seorang pemuda yang bernama Muhammad, pemuda yang begitu mengenal harga dirinya, yang tidak tergiur oleh kekayaan dan kecantikan.

Sayyidatina Khadijah ra merupakan wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau banyak membantu dan memperteguhkan tekad Rasulullah SAW melaksanakan risalah dakwah. Beliau senantiasa berusaha meringankan kepedihan hati dan menghilangkan keletihan serta penderitaan yang dialami oleh suaminya dalam menjalankan tugas dakwah. Inilah keistimewaan dan keutamaan Khadijah dalam sejarah perjuangan Islam. Beliau adalah sumber kekuatan yang herada di belakang Rasulullah saw.

Pada suatu ketika Rasulullah saw menyatakan, yang mana pernyataan beliau ini membuat Siti Aisyah merasa cemburu: “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan … darinyalah aku mendapatkan keturunan.” Begitulah pernyataan Rasulullah saw tentang kepribadian Khadijah, istrinya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam. Dalam majelis haul dan & zikir semacam ini banyak hikmah yang dapat kita ambil. Majelis-majelis seperti inilah yang dicintai oleh Rasulullah, karena da’am majelis seperti ini, kita bisa mengetahui perjuangan orang-orang yang berjuang bersama Rasulullah.

Alangkah celakanya mereka-mereka yang sombong, congkak, yang membenci peringatan-peringatan seperti ini, karena mereka secara tidak langsung telah berpaling dari orang-orang yang dicintai Allah dan RasulNya. Kelak mereka ketika di akherat akan diubah wujudnya oleh Allah menjadi seekor semut yang kecil, mereka akan terinjak-injak oleh manusia. Dikisahkan pada zaman sahabat, ada seorang sahabat yang mempunyai anak yang masih berumur 10 tahun, ingin ikut bersama ayahnya untuk berjihad menegakkan agama Allah Sewaktu di tengah-tengah medan pertempuran sang anak berkata pada ayahnya: “Wahai ayahku doakan aku mati syahid agar bisa bertemu dengan Rasulullah”, Apa jawab sang ayah: “Jika engkau syahid dalam pertempuran ini tolong sampaikan salamku pada Rasulullah SAW”. Inilah salah satu contoh mendidik anak agar anak menjadi sholeh. Sangat berbeda dengan zaman yang kita hadapi sekarang ini, di mana orang tua lebih takut jika anaknya tidak bisa matematika, tidak faham internet dan llmu-ilmu dunia lainnya, sementara tidak merasa kuatir ataupun takut jika mereka tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya. Coba kita tengok anak-anak zaman sekarang mereka lebih faham nama-nama bintang sinetron ataupun sepak bola. Sementara nama-nama nabi, para sahabat dan para auliya’illah mereka tidak kenal. Wahai para kaum muslimin mari kita didik anak-anak kita untuk lebih mengenal Allah dan Rasul-Nya, mari kita ajak mereka untuk sholat berjama’ah membaca Al-Quran. jangan sampai mereka tidak bisa membaca Al-Quran apalagi tidak mengerjakan sholat.

*** Beliau adalah Pengasuh PonPes Darul Musthofa Tarim. Pengajian beliau ini dalam Rangka Peringatan. Haul Sayyidatina Khadijatul Kubro oleh jama’ah al-Khidmah, di Gresik 3 Pebruari 2008 Diambil dari Media Ummat Pebruari 2008

This entry was posted in Kajian, Taushiah and tagged , , . Bookmark the permalink.